JAKARTA – Realisasi investasi di Indonesia masih rendah. Dalam catatan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), realisasi investasi sepanjang triwulan II-2020 sebesar Rp191,9 triliun atau turun 4,3% dibanding periode yang sama tahun lalu. Capaian tersebut di bawah dari target realisasi investasi trwiulan II-2020 lebih dari Rp200 triliun.
Ternyata ada beberapa faktor yang menyebabkan investor malas datang ke Indonesia. Antara lain harga tanah di Indonesia dan upah pekerja mahal. Di sisi lain, perizinan di Indonesia juga menjadi faktor lainnya.
Berikut adalah mengenai fakta investor enggan datang ke Indonesia yang dirangkum Okezone, Minggu (9/8/2020).
1. Harga Tanah Mahal
Kepala BKPM Bahlil Lahadalia mengatakan penyebab utama kesulitannya menarik investasi asing bukan kebijakan fiskal, melainkan mahalnya tanah di Indonesia. Harga tanah dan upah itu terasa paling mahal saat dibandingkan dengan negara-negara ASEAN, seperti Thailand, Filipina, Malaysia, dan Vietnam. Hal ini lah yang membuat daya saing Indonesia masih rendah di ASEAN.
"Banyak yang bertanya kenapa di Indonesia di saat negara lain investasi asing menurun, kok kita landai makanya itu yang kita perbaiki," kata Bahlil dalam webinar,Selasa (4/8/2020).
2. Upah Mahal
Dia melanjutkan masalah yang juga menyebabkan investor enggan berdatangan adalah terkait dengan upah pekerja di Indonesia. Lantaran, rata-rata upah minimum pekerja per bulan di Indonesia menjadi yang paling mahal di antara negara Asean. Rinciannya, rata-rata harga upah minimum pekerja di Indonesia senilai USD279 per bulan atau sekitar Rp4,1 juta.
"Sementara itu, rata-rata upah pekerja di Malaysia hanya USD268 per bulan, Thailand dan Filipina masing-masing USD220 per bulan, dan Vietnam USD182 per bulan," jelasnya.