JAKARTA - Perusahaan minyak dan gas di seluruh dunia mulai melakukan PHK dan memangkas pekerja. Hal ini dilakukan demi bertahan dari situasi melemahnya permintaan minyak mentah yang berkepanjangan.
Rystad Energy melaporkan, secara keseluruhan, lebih dari 400 ribu pekerjaan di sektor minyak dan gas telah dipangkas tahun ini. Sekitar setengah dari pekerjaan tersebut berada di Amerika Serikat, tempat beberapa perusahaan eksplorasi besar dan sebagian besar perusahaan jasa minyak besar bermarkas.
Baca Juga: Menaker Sebut Hanya 7% Perusahaan Patuh soal Hak Pesangon
Pandemi Covid-19 telah menghancurkan sebagian besar ekonomi global. Perusahaan energi sudah berjuang dengan tingkat pengembalian investasi yang rendah, terutama yang beroperasi di kawasan gas serpih (shale gas) AS, tetapi tetap harus memangkas biaya karena investor menekan perusahaan untuk meningkatkan margin.
“Realitas era Covid di seluruh industri minyak adalah penghematan dalam skala yang luar biasa. Tidak dapat dihindari fakta bahwa ini berarti, antara lain, kehilangan pekerjaan, ” kata Pavel Molchanov, analis di Raymond James dilansir dari VOA, Sabtu (31/10/2020).
Selain Exxon, Chevron Corp, Woodside Petroleum Ltd Australia dan Cenovus Energy Inc Kanada, semua perusahaan minyak mengumumkan rencana untuk melakukan PHK dalam beberapa pekan terakhir.
Permintaan bahan bakar global merosot lebih dari sepertiga di musim semi. Meskipun konsumsi telah pulih, tapi tetap lebih rendah dari tahun lalu akibat kebijakan negara-negara besar yang menerapkan karantina wilayah lebih lanjut untuk menahan pandemi.
Penurunan sangat parah di Amerika Serikat, produsen minyak mentah terbesar di dunia. Negara ini telah mencatat kematian terbanyak akibat virus korona, dan kerusakan akibat pandemi telah menyebabkan pengangguran menjadi sekitar 8%.