Perusahaan Raksasa Energi di Dunia Ramai-Ramai PHK Karyawan

, Jurnalis
Sabtu 31 Oktober 2020 21:32 WIB
Karyawan (Foto: Shutterstock)
Share :

Menteri Energi AS, Dan Brouillette, mengatakan tidak mungkin untuk kembali ke puncak angka konsumsi, mendekati 13 juta barel per hari, yang dicapai pada 2019. Industri serpih terkena dampak pandemi karena mudah bagi perusahaan minyak untuk memangkas staf dan pengeluaran di sektor tersebut.

Teknik pengeboran fracking telah menjadi masalah utama dalam kampanye kepresidenan AS. Penantang Demokrat Joe Biden ingin membatasi fracking di tanah federal, sementara Presiden Donald Trump telah mendorong lebih banyak pengeboran, dan berpendapat bahwa posisi Biden akan menghancurkan pekerjaan.

Konsolidasi telah mendorong terjadinya PHK. Chevron berencana untuk memangkas sekitar 25% dari staf yang diperoleh dengan Noble Energy setelah diakusisi pada bulan ini. Shell mengatakan produksi minyaknya kemungkinan mencapai puncaknya tahun lalu, dan berencana untuk memangkas sekitar 10% dari tenaga kerjanya. Sedangkan Cenovus mengatakan akan memotong 25% setelah membeli saingannya Husky Energy.

Di Australia, lebih dari 2.000 pekerjaan di industri minyak telah dipangkas sejak Maret, termasuk di Exxon dan Chevron. Produsen gas independen terkemuka Woodside mengatakan awal bulan ini bahwa mereka akan memangkas sekitar 8% tenaga kerjanya.

Sekretaris Jenderal Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) Mohammad Barkindo baru-baru ini menyatakan keprihatinan bahwa laju permintaan minyak di bawah ekspektasi, berpotensi mengharuskan produsen besar untuk mempertahankan pengurangan produksi

(Kurniasih Miftakhul Jannah)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya