Persentase tersebut mendorong laba bersih perseroan anjlok 15,4% menjadi Rp4,1 triliun selama enam bulan pertama 2021.
Kendati demikian, konsumsi masyarakat produk HMSP masih cukup signifikan. Itu terbukti dari capaian penjualan bersih HMSP meningkat 6,5% sebesar Rp47,6 triliun.
“Penurunan mobilitas dan ekonomi masyarakat yang cenderung negatif, secara keseluruhan berdampak langsung pada kondisi finansial perusahaan dan kontribusi pajak. Terlepas dari berbagai tantangan yang ada, Sampoerna terus berupaya menjaga stabilitas bisnis dengan terus berkomitmen memperkuat inovasi dan strategi investasi, termasuk pada portofolio Sigaret Kretek Tangan (SKT),” terang Mindaugas.
Perseroan mencatat ada penurunan tren perdagangan (downtrading) di mana perokok dewasa telah beralih ke produk dengan cukai dan harga yang murah.
"Kinerja pangsa pasar Sampoerna pada semester 1 2021 mengalami penurunan sebesar 1,3 persen basis poin menjadi 28,0%. Namun demikian, Sampoerna A, produk utama perusahaan, serta portofolio SKT mencatatkan kenaikan pangsa pasar sebesar 0,5 persen basis poin menjadi 12,5% dan 0,3 persen basis poin menjadi 7,0% pada semester 1 2021," tertulis dalam laporan data keuangan perseroan.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)