JAKARTA - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif menyebut bahwa kebijakan transisi energi yang tepat akan memudahkan untuk menekan laju perubahan iklim di kawasan regional seperti Asia Tenggara.
Maka itu, setiap negara harus mempertimbangkan kemampuan berdasarkan potensi energi, kematangan teknologi, kelayakan ekonomi, peluang investasi, dan penciptaan lapangan kerja seperti green jobs.
"Proses transisi energi menuju energi bersih harus direncanakan berdasarkan kebutuhan negara masing-masing. Apalagi kita memiliki kepentingan dan tujuan bersama untuk memerangi perubahan iklim, kita perlu membuat perubahan penting terkait kebijakan keamanan ekonomi dan energi di kawasan seperti ASEAN," ujarnya pada acara Asia Clean Energy Summit (ACES) 2021 dalam keterangan tertulis, Selasa (26/10/2021).
Baca Juga: 5 Fakta Presiden Jokowi Tinggalkan Energi Fosil
Arifin mengungkapkan, pemanfaatan energi baru dan terbarukan (EBT) sebagai jalan keluar mengimplementasikan transisi energi harus tetap mempertimbangkan kondisi perkonomian domestik, daya saing pasar, hingga kemampuan industri.
"Kita harus memaksimalkan potensi lokal kita sendiri untuk memastikan pengembangan EBT selaras dengan kondisi ekonomi dan tantangan masa depan," jelasnya.
Baca Juga: Erick Thohir Tugasi PLN Gaet Investor Proyek Energi Terbarukan
Dia memaparkan, sebagai kawasan dengan pertumbuhan ekomoni tercepat, permintaan listrik di ASEAN naik 6% setiap tahun dalam 20 tahun terakhir berdaarkan laporan Electricity Market dari International Energy Agency (IEA) pada bulan Desember 2020. Kebutuhan energi (ASEAN) akan meningkat selaras dengan pertumbuhan ekonomi sebagai akibat dari membaiknya efek pandemi.