4 Fakta Pertamina Naikan Harga BBM Jadi Rp14.500/Liter, Nomor 2 Masih Ditahan

Tim Okezone, Jurnalis
Sabtu 12 Maret 2022 03:53 WIB
Harga BBM non subsidi naik (Foto: Okezone)
Share :

JAKARTA -  PT Pertamina (Persero) menaikkan harga BBM non subsidi jenis Pertamax Turbo, Dexlite dan Pertamina Dex. Kenaikan itu berlaku di seluruh Indonesia mulai 3 Maret 2022.

Sejumlah provinsi mengalami kenaikan harga yang bervariaif misalnya di wilayah DKI Jakarta harga Pertamax Turbo naik dari Rp13.500 menjadi Rp14.500 per liter, Dexlite naik dari Rp12.150 jadi Rp12.950 dan Pertamina Dex naik dari Rp13.200 menjadi Rp13.700.

Berikut adalah fakta kenaikan harga BBM non subsidi yang dirangkum Okezone, Sabtu (12/3/2022).

1. Imbas kenaikan harga minyak dunia

Harga minyak dunia melonjak di tengah perang Rusia-Ukraina. Bahkan harga minyak dunia sempat tembus level USD130 per barel. Harga minyak ini berdampak langsung terhadap beban subsidi APBN dan beban keuangan Pertamina.

VP Corporate Commucation Pertamina Fajriyah Usman mengatakan, penyesuaian harga produk juga dilakukan secara selektif, hanya untuk BBM Non Subsidi tertentu seperti Pertamax Series maupun Dex Series yang porsi konsumsinya hanya sekitar 15% dari total konsumsi BBM Nasional.

2. Pertalite tak naik

Adapun, harga Pertalite sendiri tidak berubah sejak 3 tahun terakhir. Saat ini porsi konsumsi Pertalite adalah yang terbesar atau sekitar 50% dari total konsumsi BBM nasional. Oleh karenanya, Pemerintah terus melakukan pembahasan untuk skenario kompensasi Pertalite agar stabilisasi harga Pertalite dapat terjaga.

3. BBM non subsidi untuk kalangan mampu

Pjs Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Sub Holding Pertamina Commercial & Trading Irto Ginting mengatakan, karena 3 BBM itu untuk masyarakat mampu sehingga dinaikkan.

"3 BBK (Pertamax Turbo, Dexlite dan Pertadex) merupakan Bahan Bakar Minyak Non Subsidi untuk masyarakat mampu, dan porsinya hanya 3% dari total konsumsi BBM nasional," jelasnya, Kamis (3/2/2022).

4. Tak bebankan APBN

Kenaikan BBM disebut justru tak memberatkan APBN tapi malah meringankan. Hal tersebut disampaikan oleh Pengamat ekonomi energi Universitas Gadjah Mada Fahmy Radhi.

"Beban APBN itu untuk memberikan kompensasi pada saat Pertamina menjual BBM di bawah harga keekonomian. Kalau tidak ada kenaikan harga BBM di dalam negeri beban APBN semakin berat," jelasnya, Jumat (4/3/2022).

(Kurniasih Miftakhul Jannah)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya