Rupiah Hari Ini Ditutup Menguat ke Rp14.326/USD Imbas Covid-19 Naik Kembali di China

Anggie Ariesta, Jurnalis
Selasa 15 Maret 2022 15:38 WIB
Rupiah menguat hari ini. (Foto: Shutterstock).
Share :

JAKARTA - Nilai tukar (kurs) rupiah ditutup menguat 6 poin di level Rp14.326 setelah sebelumnya juga naik ke level Rp14.332 hari ini, Selasa (15/3/2022).

Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah kemungkinan dibuka berfluktuasi namun ditutup menguat direntang Rp14.310-Rp14.370.

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, dolar melemah terhadap mata uang lainnya karena investor kembali fokus terhadap wabah Covid-19 terbaru di China.

 BACA JUGA:Rupiah Hari Ini Ditutup Melemah 32 Poin ke Rp14.333/USD

Di mana wabah itu menyebabkan penguncian di beberapa kota, tetapi fokusnya tegas pada keputusan kebijakan Federal Reserve AS bulan Maret.

"Jumlah kasus di China memang terbilang sedikit dibanding negara lain. Namun strategi 'nol Covid' yang tak segan me-lockdown wilayah jadi tantangan bagi ekonomi China dan global," tulis Ibrahim dalam risetnya, Selasa (15/3/2022).

Secara total, ada 10 kota yang dikunci di gelombang baru Covid-19 saat ini.

Sejak pandemi mewabah, mengutip Worldometers, China mencatat 116.902 total kasus dengan 4.636 kematian.

Selain itu, The Fed secara luas diperkirakan akan menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya sejak pandemi ketika menjatuhkan putusan kebijakannya pada hari Rabu.

Investor mengharapkan kenaikan 25 basis poin pada pertemuan ini, menurut alat Fedwatch CME.

 BACA JUGA:Rupiah Menguat Lawan Dolar AS, Mata Uang Lainnya Keok

Namun, harga telah meningkat untuk menunjukkan peluang 70% dari kenaikan 50 basis poin yang lebih besar pada pertemuan Mei 2022, berkat meningkatnya kekhawatiran tentang inflasi.

Harapan bahwa Ukraina dan Rusia akan mencapai akhir negosiasi perang yang dipicu oleh invasi Rusia pada 24 Februari juga menghilangkan sebagian daya tarik safe-haven yen.

Kedua negara mengadakan pembicaraan putaran keempat pada hari Senin, tetapi tidak ada kemajuan baru yang dilaporkan dibuat. Pembicaraan akan dilanjutkan pada Selasa.

Dari sentimen domestik, sesuai ekspektasi pasar, Neraca Perdagangan Indonesia (NPI) yang dirilis BPS kembali surplus pada Februari 2022.

Neraca Perdagangan Indonesia bulan lalu tercatat USD3,83 miliar. Surplus Februari naik dibanding Januari yang tercatat USD930 juta. Surplus ini didorong nilai ekspor yang lebih tinggi dibanding dengan impor.

Melonjaknya harga komoditas internasional mendorong surplus Februari. Adapun komoditas nonmigas penyumbang surplus terbesar berasal dari bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewan atau nabati, besi dan baja

Selain itu pasar juga memantau perkembangan perekonomian Indonesia paska pulih dari Covid-19 dilihat dari berbagai indikator menunjukkan proses pemulihan ekonomi di Indonesia berjalan lebih cepat.

Hal ini tercermin dari mobilitas masyarakat yang semakin normal, serta peningkatan kinerja penjualan ritel dan Indeks Keyakinan Konsumen yang tetap kuat di level optimis.

Perekonomian Indonesia juga diperkirakan akan kembali ke jalur yang lebih tinggi, didukung oleh perbaikan ekonomi global, peningkatan produktivitas domestik sebagai dampak dari reformasi struktural, termasuk percepatan reformasi digitalisasi ekonomi dan keuangan dan penguatan UMKM.

Oleh karena itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia (PDB) pada tahun ini pun diperkirakan akan meningkat lebih tinggi, pada kisaran 4,7 persen hingga 5,5 persen, dari pertumbuhan 3,69 persen pada 2021 Selain itu, pertumbuhan ekonomi juga akan didukung oleh stimulus kebijakan yang terus berlangsung dan pembukaan kembali sektor ekonomi.

Diperkirakan, sektor ekonomi seperti manufaktur, perdagangan, infrastruktur, dan pertanian akan terus mengalami peningkatan.

 BACA JUGA:Rupiah Menguat Lawan Dolar AS, Mata Uang Lainnya Keok

Kemudian, sektor pariwisata juga akan mulai mengalami peningkatan sejalan dengan normalisasi mobilitas.

Penyelenggaraan MotoGP di Mandalika, Nusa Tenggara Barat (NTB), diyakini menjadi salah satu kegiatan yang akan mempercepat pemulihan di sektor tersebut.

"Bagusnya data internal tidak serta merta membawa mata uang garuda menguat tajam bahkan sebaliknya sempat melemah, walaupun akhirnya menguat tipis. Mungkin pelaku pasar condong terhadap pertemuan bank sentral Amerika Serikat yang akan mengumumkan kenaikan suku bunga acuannya," katanya.

(Zuhirna Wulan Dilla)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya