Selain itu, kata dia, Indonesia juga mengalami defisit neraca dagang dengan sejumlah negara yang terbesarnya dengan Argentina, Australia, dan Thailand.
Dengan Argentina, neraca perdagangan RI mengalami defisit 320,2 juta dolar AS, di mana penyebabnya karena Indonesia mengimpor serealia, serta ampas dan sisa industri makanan.
Sedangkan dengan Australia, Indonesia mengalami defisit 283,5 juta dolar AS, di mana penyebab utamanya yakni RI mengimpor bahan bakar mineral dan serealia.
Terakhir defisit neraca perdagangan terbesar ketiga RI adalah dengan Thailand, yakni sebesar 217,9 juta dolar AS, dengan penyebab utamanya impor plastik dan barang dari plastik, serta gula dan kembang gula.
Dengan demikian, secara kumulatif, neraca perdagangan RI pada Januari-April 2022, Indonesia mengalami surplus 16,89 miliar dolar AS.
"Kalau kita lihat, tren surplus ini adalah surplus kita yang terbaik pada periode 2017-2021," pungkas Margo.
(Taufik Fajar)