Inflasi AS 9,1%, Apa Dampaknya Bagi Indonesia?

Rizky Fauzan, Jurnalis
Kamis 14 Juli 2022 15:13 WIB
Ilustrasi inflasi (Foto: Freepik)
Share :

JAKARTA - Direktur Center of Economic and Law Studie (CELIOS) Bhima Yudhistira mengatakan bahwa inflasi di Amerika Serikat (AS) perlu diwaspadai lantaran ada dua jalur transmisi.

Menurutnya, yang pertama adalah jalur moneter.

Sebab, inflasi yang tinggi akan menciptakan tingkat suku bunga, yang semakin meningkat atau lebih agresif dari Bank Sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve (The Fed).

Inflasi Amerika Serikat (AS) pada Juni kembali melejit mencapai 9,1% secara tahunan, hal Ini menjadi yang tertinggi dalam 41 tahun terakhir.

 BACA JUGA:Harga Emas Berjangka Naik karena Tingginya Inflasi AS

Angka itu juga jauh di atas perkiraan sejumlah ekonom yang dikumpulkan media dan lembaga, seperti Dow Jones 8,8%.

"Ini akan membuat dolar AS semakin perkasa bahkan terhadap Euro, terhadap mata uang dominan lainnya, apalagi terhadap nilai tukar rupiah. Jadi dalam beberapa pekan ke depan rupiah diperkirakan akan bergejolak," ujar Bhima saat dihubungi MNC Portal, Kamis (14/7/2022).

Bhima menyebut rupiah diprediksi akan melemah dan arus modal asing semakin deras keluar.

Hal tersebut, juga akan bergantung pada respon Bank Indonesia (BI).

Misal, apakah BI akan melakukan langkah dengan menaikan suku bunga.

"Berapa basis poin? Nah itu yang akan jadi pertanyaan besar," ucapnya.

Bhima menuturkan, yang kedua, akan berdampak pada jalur perdagangan.

Jika inflasi AS naik berarti kinerja ekspor untuk tujuan AS bisa terganggu, konsumsi rumah tangga di AS daya belinya turun, sehingga mempengaruhi permintaan barang-barang yang ada di Indonesia.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya