JAKARTA - Harga minyak dunia naik pada penutupan perdagangan Selasa (19/7/2022), di mana kenaikan ini lebih dari USD5.
Dikutip Antara, hal ini terjadi karena pelemahan dolar dan ekspektasi bahwa Federal Reserve AS tidak akan menaikkan suku bunga sebesar poin persentase penuh pada pertemuan berikutnya untuk memerangi inflasi.
Adapun minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman September melonjak USD5,11 atau 5,1%, menjadi menetap di USD106,27 per barel, setelah terangkat 2,1% pada Jumat (15/7/2022).
BACA JUGA:Harga Minyak Dunia Merosot 7,9%
Sedangkan minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Agustus ditutup naik USD5,01 dolar AS atau 5,1%, menjadi USD102,60 per barel setelah naik 1,9% di sesi sebelumnya.
Diketahui, dlar AS mundur dari tertinggi multi-tahun pada Senin (18/7/2022), mendukung harga-harga komoditas. Dolar yang lebih lemah membuat komoditas berdenominasi dolar lebih terjangkau bagi pemegang mata uang lainnya.
"Kemajuan kuat hari ini sebagian besar dihasilkan dari pelemahan dolar AS yang cukup besar dan berbasis luas yang telah memberikan pendorong utama di balik perubahan harga minyak harian selama beberapa minggu terakhir," kata presiden Ritterbusch and Associates LLC Jim Ritterbusch di Galena, Illinois.
Baik Brent maupun WTI pekan lalu mencatat penurunan mingguan terbesar mereka dalam waktu sekitar satu bulan.
Pasokan minyak tetap ketat. Seperti yang diperkirakan, perjalanan Presiden AS Joe Biden ke Arab Saudi tidak menghasilkan janji apa pun dari produsen utama OPEC untuk meningkatkan pasokan minyak.
Biden ingin produsen minyak Teluk meningkatkan produksi untuk membantu menurunkan harga minyak.
Monopoli ekspor gas Rusia Gazprom menyatakan force majeure pada pasokan gas ke Eropa untuk setidaknya satu pelanggan utama, menurut surat yang dilihat oleh Reuters, berpotensi meningkatkan konflik antara Moskow dan Eropa.
Itu menambah dukungan pada harga minyak, karena para pedagang melihatnya berpotensi sebagai pendahulu dari tindakan Rusia untuk menggunakan energi sebagai senjata.
"Risiko jelas lainnya ... adalah bahwa Rusia akan lebih jauh memangkas pasokan energi ke Eropa untuk mencoba menaikkan biaya mendukung Ukraina dan menjatuhkan sanksi," ucap kepala strategi komoditas global Helima Croft di RBC Capital Markets.
(Zuhirna Wulan Dilla)