Ini Penyebab Dolar AS Terus Menguat dan Dampaknya ke Ekonomi

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis
Kamis 29 September 2022 07:32 WIB
Indeks Dolar AS menguat (Foto: Ilustrasi Shutterstock)
Share :

Banyak perekonomian di Eropa dan Asia sedang berjuang akibat anjloknya harga gas yang disebabkan konflik di Ukraina.

Adapun AS belum mengalami pukulan keras akibat kenaikan harga energi. Meskipun ekonominya telah menyusut dalam enam bulan terakhir, sektor bisnis di AS masih terus merekrut pegawai --suatu hal yang dipandang sebagai tanda kepercayaan investor terhadap perekonomian setempat.

Akan tetapi, dolar yang kuat justru merugikan perusahaan AS yang menghasilkan uang dari berbagai kawasan di dunia, seperti Apple dan Starbucks. Diperkirakan bahwa perusahaan-perusahaan Amerika yang berdagang di indeks pasar saham S&P 500 bisa kehilangan USD100 miliar dalam penjualan internasional.

Apa pengaruh dolar yang sedang menguat terhadap negara-negara dengan mata uang yang lemah?

Negara-negara dengan mata uang yang lebih lemah bisa mendapatkan keuntungan dari dolar yang kuat, karena negara-negara tersebut menyediakan jasa dan menjual barang ke AS dengan harga lebih murah. Itu sama artinya mengerek ekspor.

Akan tetapi, itu juga berarti barang-barang yang diimpor dari Amerika jadi lebih mahal. Karena harga minyak diperdagangkan dalam dolar AS, harga bahan bakar minyak saat ini lebih mahal di banyak negara di dunia.

Di Kenya, misalnya, mata uang shilling jatuh ke rekor terendah terhadap dolar AS. Harga BBM pun naik hampir 40% sejak awal 2022. Pemerintah dan perusahaan di banyak negara juga sering meminjam uang dalam dolar AS daripada mata uang mereka sendiri karena lebih stabil.

Sebab ketika nilai dolar AS meningkat, akan lebih mahal membayar utang tersebut jika menggunakan mata uang lokal. Pemerintah Argentina sangat terpukul oleh dolar yang menguat.

Negara itu pun melarang impor barang untuk sementara, termasuk kapal pesiar dan wiski demi melindungi cadangan devisa.

(Kurniasih Miftakhul Jannah)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya