Menteri Bahlil Promosikan Hutan RI ke Menteri Investasi Inggris, Ada Potensi Investasi?

Iqbal Dwi Purnama, Jurnalis
Sabtu 29 Oktober 2022 11:19 WIB
Menteri investasi/ Kepala BKPM Bahlil Lahadalia. (Foto: MPI)
Share :

JAKARTA - Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia melakukan pertemuan dengan Menteri Invetasi Inggris Lord Dominic Johnson bertempat di Kantor Sekretaris Negara di London.

Salah satu tujuan Bahlil datang ke Inggris adalah untuk mencari potensi perdagangan karbon dengan negara maju.

Sebab menurutnya luasan hutan di Indonesia yang masih cukup banyak menjadi potensi besar untuk menyerap karbon.

 BACA JUGA:Sindir Investor Enggan Kerjasama dengan UMKM, Menteri Bahlil: Kami di Sini Asas Gotong Royong

Bahlil juga mengungkapkan bahwa pemerintah Indonesia sedang merumuskan regulasi mengenai pasar karbon dan harga karbon.

Dengan potensi yang cukup besar, Bahlil menjamin hal ini dapat menjadi peluang besar yang saling menguntungkan bagi kedua negara.

"Ini adalah langkah awal yang baik. Saya berpikir bahwa hubungan kedua negara ini harus kita tingkatkan dalam perspektif ekonomi dan khususnya investasi,” kata Bahlil dalam pernyataan tertulisnya, Jumat (28/10/2022).

Terkait dengan isu perdagangan karbon, Menteri Investasi Inggris Lord Dominic Johnson menyatakan bahwa pemerintah Inggris akan dengan senang hati menjajaki peluang bagi kedua negara terkait kerja sama di bidang perdagangan karbon.

Hal ini akan didiskusikan lebih lanjut olehnya saat melakukan kunjungan ke Indonesia pada kegiatan B20 di Bali bulan November mendatang.

"Tentunya kami harap ke depan juga dapat menjalin kerja sama yang lebih menguntungkan dan saling membutuhkan satu sama lain,” kata Johnson.

Sebelumnya Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia mengungkapkan alotnya kesepakatan untuk penetapan harga karbon trading. Sebab menurut bahlil saat ini sistem perdagangan karbon antara negara maju dan berkembang masih terjadi ketimpangan, terutama dari sisi harga.

Bahlil menginginkan, harga karbon yang ada di negara berkembang maupun negara maju mempunyai harga yang adil.

Hal tersebut menjadi cukup potensial untuk negara berkembang karena masih mempunyai area hutan yang tergolong luas.

(Zuhirna Wulan Dilla)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya