Dia menilai, salah satu efek dampak dari perang dan pemulihan Covid-19 jika dilihat dari sektor tambang adalah harga batu bara yang sangat menjulang karena geopolitik antara rusia Ukraina, China dan Australia tersebut memicu dan membuat harga batu bara yang sangat tinggi.
"Ada beberapa koreksi beberapa bulan terakhir tapi tetep masi kuat dan diprediksi akan terus kuat di tahun 2023," jelasnya.
Sebagaimana diketahui, pertambangan batu bara dan lignit tumbuh sebesar 9,41%, yang didorong oleh peningkatan permintaan dari luar negeri terhadap batu bara, serta kenaikan harga batu bara yang signifikan.
Lebih lanjut, pertambangan bijih logam tumbuh sebesar 9,03%, yang didorong oleh meningkatnya produksi tembaga dan emas di distrik mineral Grasberg, Papua.
Selain itu, kenaikan juga dikarenakan adanya peningkatan permintaan dari luar negeri terutama untuk komoditi emas dan tembaga.
"Kenaikan harga batu bara di tingkat global berdampak positif pada beberapa provinsi. Misalkan di Sumatera Selatan, sektor pertambangan memiliki share dalam ekonominya 25,88%, dan ini kalau kita hitung source of growth-nya pertambangan merupakan terbesar ketiga setelah perdagangan dan industri pengolahan," kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Margo Yuwono saat konferensi pers.
(Zuhirna Wulan Dilla)