The 20th Economix, Seminar Ekonomi Terbesar Hadir di Indonesia

Agustina Wulandari , Jurnalis
Jum'at 02 Desember 2022 11:01 WIB
The 20th Economix (Foto: dok The Economix UI)
Share :

Ketidakpastian akan masa depan yang terjadi akibat Covid-19 mengharuskan setiap negara untuk mengambil langkah preventif dibandingkan represif karena hal tersebut akan menimbulkan biaya yang luar biasa jika tidak kita cegah.

Perubahan iklim juga harus diantisipasi seperti mulai mengubah penggunaan energi yang tidak terbarukan menjadi terbarukan. Hal ini tidak hanya ditujukan karena kelangkaan saja, tetapi untuk kesejahteraan sosial baik untuk masa sekarang maupun masa depan.

Dengan melakukan hal tersebut, masyarakat dunia dapat merasakan kehidupan dengan lingkungan yang lebih baik, akses untuk air bersih, dan yang lainnya. Gerakan besar sudah mulai diambil oleh Singapore, Indonesia, dan seluruh negara lainnya untuk meningkatkan kualitas hidup di setiap negara tersebut dan menjamin kehidupan berkelanjutan.

Pada akhirnya, sesuatu yang terjadi baik internasional maupun nasional membutuhkan kepercayaan, baik kepercayaan kepada pemerintah maupun dalam kerja sama antar negara-negara dunia. Multilarisme harus digalakkan, salah satu perwujudannya yaitu dalam G20. G20 memiliki peran yang luar biasa dengan mengumpulkan sumber daya yang terdapat dari setiap negara dan menggunakannya bersama-sama untuk mengatasi permasalahan global.

Ke depannya, dalam mengatasi atau mencegah terjadinya permasalahan ataupun krisis-krisis yang tidak diinginkan, dibutuhkannya infrastruktur publik yang memadai, baik dalam internasional maupun nasional sehingga dibutuhkan kerja sama multilateral untuk melakukan pembangunan sehingga masalah tersebut dapat diatasi.

Andrea Goldstein

Pembicara pertama dalam moderated session The 20th Economix International Seminar adalah Andrea Goldstein. Pada kesempatan kali ini, Andrea Goldstein mempresentasikan outlook perekonomian yang dibuat oleh OECD.

Dunia sedang dihadapkan dengan beberapa permasalahan: energy price shock yang besar, pasar tenaga kerja yang semakin ketat, dan upah riil yang semakin menurun. Pertumbuhan ekonomi baik dari tiap negara maupun secara global diproyeksikan mengalami penurunan pada tahun 2023. Selanjutnya, untuk tahun 2023, tingkat inflasi diproyeksikan akan tetap tinggi, tetapi sedikit mengalami penurunan.

Keadaan perekonomian global seperti saat ini menimbulkan berbagai risiko. Benua Eropa dihadapkan dengan risiko kekurangan cadangan energi pada musim salju tahun ini dan tahun depan. Rumah tangga konsumen juga dihadapkan dengan meningginya bunga cicilan rumah yang mengikuti tren suku bunga.

Selain itu, banyak negara low-income memiliki risiko untuk kesulitan membayar utang di tengah keadaan perekonomian yang seperti ini. Hal ini yang akan menjadi salah satu pembahasan penting dalam forum G20 selanjutnya di India setelah tahun ini dilaksanakan di Indonesia.

Andrea Goldstein menjelaskan bahwa jika perang dapat diakhiri, maka ketidakpastian akan berkurang dan tingkat keyakinan masyarakat terhadap perekonomian akan meningkat dan pada akhirnya akan memacu pertumbuhan ekonomi.

Terkait kebijakan apa yang dapat diterapkan, Andrea Goldstein menjelaskan bahwa kebijakan moneter seharusnya tetap diperketat untuk memerangi inflasi. Di sisi fiskal, kebijakan yang diterapkan harus diupayakan untuk lebih tepat sasaran.

Selanjutnya, menjaga perekonomian tetap terbuka (dalam konteks multilateral) akan membantu untuk me-restore pertumbuhan ekonomi. Kesenjangan gender juga harus diperkecil dengan mendorong tenaga kerja wanita untuk berpartisipasi aktif dalam pasar tenaga kerja.

Terakhir, Andrea Goldstein menjelaskan bahwa negara-negara dapat berinvestasi pada keterampilan tenaga kerja untuk meminimalkan long-term cost yang disebabkan oleh pandemi Covid-19.

James P.Walsh

James P.Walsh selaku Perwakilan Residen Senior untuk Indonesia di International Monetary Fund (IMF), merupakan pembicara ke-2 pada sesi Moderated Session. Beliau membahas mengenai “Mencapai Ketahanan Makroekonomi Secara Global”.

Untuk pembukaan, beliau menyinggung mengenai acara G20 yang baru-baru ini diselenggarakan di Bali, Indonesia yang berlangsung pada tanggal 15-16 November 2022. Ia membahas beberapa poin kunci pada deklarasi pemimpin G20 Bali, seperti mendukung perdagangan agar fungsinya dapat berjalan dengan baik dengan cara menghilangkan batasan-batasan yang ada, tidak membiarkan proteksionisme dan mengalihkan dunia ke dalam blok-blok yang terpisah.

Pada acara G20 juga dilakukan penyampaian Kerangka Kerja Umum G20 untuk penanganan utang, pembahasan untuk mengoperasikan Resilience and Sustainability Trust (RST) untuk negara-negara yang paling membutuhkan, untuk mengatasi tantangan struktural jangka panjang dengan berinvestasi pada pertanian tahan iklim dan pembangunan rendah karbon.

Banyak pihak yang memamerkan iklim investasi dan keterbukaan Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia terbuka untuk dunia dan harus mendorong lebih banyak investasi di masa mendatang.

Bapak James P.Walsh juga sempat membahas mengenai proyeksi pertumbuhan menurut World Economic Outlook (WEO) 2022. WEO memperkirakan pertumbuhan ekonomi 2022 sebesar 3,2 persen dan tahun depan akan makin melemah.

Ia juga menyatakan bahwa tiga risiko penurunan telah terwujud, seperti permintaan global yang lebih lemah (AS, kawasan Eropa, dan China sudah melemah), kondisi keuangan yang lebih ketat, dan kenaikan inflasi yang semakin persisten. Invasi Rusia ke Ukraina juga dikatakan telah menambah tekanan yang akhirnya menyebabkan terjadinya inflasi.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya