JAKARTA - Stasiun Manggarai sedang hangat diperbincangkan di media sosial oleh netizen karena kondisinya yang penuh sesak oleh penggunanya.
Bahkan ada perbincangan di media sosial soal ketika seseorang berjalanan bareng di Stasiun Manggarai maka akhirnya akan berjalan terpisah.
MNC Portal mencoba menanyakan hal itu ke sejumlah penumpang KRL di Stasiun Manggarai. Reni seorang penumpang yang biasa menggunakan moda transportasi KRL untuk bekerja mengatakan bahwa hal itu mungkin terjadi jika seseorang tidak memahami kondisi Stasiun Manggarai yang pada di waktu Peak Hours.
Menurut dia, Stasiun Manggarai pada saat jam berangkat kerja dan pulang kerja kondisinya sangat padat. Bahkan dia menyebut ada kejadian salah seorang pernah pingsan.
"Iya bisa aja sih, cuma kalau yang udah sering naik itu mereka pasti berdekatan. Dan kalai orang yang belum paham dengan kondisi manggarai pasti bisa gitu (jalan masing-masing)," kata Reni kepada MNC Portal, Kamis (23/2/2023).
Hal yang sama juga diungkapkan oleh Dea, pekerja asal Tangerang yang biasanya menggunakan KRL untuk berangkat kerja ke daerah Menteng mengatakan bahwa hal itu bisa saja terjadi, jika seseorang tidak berpegangan tangan. Namun dia mengaku tidak pernah mengalami hal itu.
"Kalau nggak pegangan mungkin iya. Tapi saya nggak pernah sih," katanya.
Berdasarkan pantauan MNC Portal, sejak pukul 17.06 hingga pukul 19.34 WIB, Kamis (23/2/2023) kondisi penumpukan terjadi di tangga dan eskalator perpindahan peron.
Bahkan ada kondisi di mana ada pemberlakuan buka tutup tangga pada peron 8 tujuan Bekasi, Jatinegara dan Cikarang. Hal itu ditujukan untuk tidak terjadi penumpukan antara orang yang menuju ke bawah dan orang yang menuju ke atas. Dan mengantisipasi adanya kondisi kepadatan di peron Stasiun.
Yang menariknya adalah ketika petugas kereta, mengumumkan kereta tujuan tertentu akan telah tiba du peron tersebut dan akan segera berangkat.
Maka tak heran apabila pengguna KRL banyak yang berlarian mengejar kereta tersebut. Pasalnya mereka tidak ungin ketinggalan kereta tersebut yang nantinya berujung pada menunggu.
(Taufik Fajar)