Perkara ini, menyebabkan operasi pasar BUMN tidak berdampak signifikan atas pengendalian kenaikan harga komoditas atau ketidakmampuan BUMN mengintervensi pasar saat gejolak harga pangan.
Secara kepemilikan, produsen swasta menguasai 56% lahan perkebunan sawit. Sementara, penguasaan lahan oleh BUMN hanya di angka 4%.
Karena itu, Erick berupaya membangunkan BUMN dari tidurnya dengan mengkonsolidasikan lahan-lahan milik perusahaan menjadi perkebunan kelapa sawit. "BUMN juga bisa bangun dari tidur, kalau harga minyak goreng tidak selesai-selesai," ucap dia.
Dari konsolidasi lahan BUMN, akan terbentuk satu ekosistem baru. Di mana, kelapa sawit tidak hanya digunakan sebagai bahan dasar minyak goreng, namun juga digunakan untuk bahan baku produk kecantikan, make up.
"Tapi bukan berarti kita potong swasta, bukan, ayo kita kerja sama-sama, kenapa? Niatnya kita memastikan minyak goreng ada di rakyat, kita memastikan swasta keberatan buat Bioetanol, kita yang buat B35, swasta silahkan buat industri turunan, make up boleh, kan turunan dari kelapa sawit, atau turunan apapun, artinya apa? Ekosistem," tutur dia.
(Feby Novalius)