Di mana kotoran tersebut dipercaya memiliki khasiat, mulai dari menyembuhkan penyakit hingga menyuburkan tanaman.
Adanya kepercayaan masyarakat akan kekuatan yang dimiliki oleh Kebo Bule ini, kerap dilekatkan dengan nama Kyai Slamet yang memiliki akar sejarah yang panjang.
Melansir situs resmi Pemerintah Kota Surakarta pada Rabu (14/3/2023), nama Kyai Slamet sendiri sebenarnya merupakan nama salah satu benda pusaka Keraton Kasunanan yang berbentuk tombak.
Asal-usul Kebo Bule di Keraton Surakarta dapat ditilik dari masa Pakubuwono II sekitar abad ke-18. Kebo Bule ini merupakan pemberian dari Bupati Ponorogo, Kyai Hasan Besari Tegalsari, sebagai hadiah kepada kerajaan.
Momennya kala itu Pakubuwono II berhasil merebut kembali Keraton Kartasura dari tangan pemberontak Pecinan, yang berlanjut dengan hijrahnya kerajaan dari Kartasura ke Sala pada 1745. Pemberian kerbau itu dimaksudkan sebagai pengawal tombak Kyai Slamet.
Seakan-akan wujud dari Kebo Bule ini sangat ditunggu-tunggu masyarakat, di mana ratusan orang tumpah di jalan-jalan yang akan dilalui kirab. Hal ini pun membuat masyarakat meyakini akan mendapatkan berkah jika menyaksikan kirab ini secara langsung.
Kebo Bule biasanya menjadi tokoh utama dalam prosesi kirab. Nantinya kawanan kerbau tersebut akan berjalan mengiringi benda pusaka tombak Kyai Slamet yang juga diarak. Istilahnya, Kebo Bule menjadi pengawal dari benda pusaka.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)