JAKARTA - Perusahaan konsinyasi online raksasa, ThredUp dan perusahaan analitik Global Data memprediksi terjadi pertumbuhan usaha barang bekas yang berlipat ganda pada 2026 atau mencapai USD82 miliar per tahun.
Hal ini seiring meningkatnya minat belanja barang bekas atau seringkali disebut thrifting. Di mana salah satu penyebab utamanya adalah perilaku belanja dari generasi milenial dan generasi Z.
Hasil survei yang dikeluarkan ThreadUp terhadap 3.500 koresponden warga Amerika yang di atas 18 tahun menunjukan 62% dari generasi milenial dan generasi Z akan melihat pasar barang bekas terlebih dahulu sebelum mencari yang baru.
“Saya suka belanja di thrift store, karena lebih bagus buat environment, tidak support fast fashion, big fashion chain yang suka mubazir dengan baju yang mereka produced,” kata Seorang Diaspora Indonesia di negara bagian Maryland yang masuk ke dalam kategori generasi Z, Nadia Al-Arif, dikutip dari VOA Indonesia, Sabtu (29/4/2023).
“Kita dengan beli dari thrift store kita juga tidak mendukung big chain yang pollute our environment, yang mungkin underpaid their worker. Kalo beli di thrif store menurut aku lebih ethical aja sih”, tambahnya.
Diaspora Indonesia lainnya, Zaid Najmudin yang saat ini bekerja di Washington DC juga bangga bisa ikut serta dalam upaya melestarikan lingkungan.