JAKARTA - Tingkat kelahiran menjadi perhatian utama sejumlah negara dengan ekonomi terbesar di Asia. Bahkan pemerintah di negara-negara tersebut menghabiskan ratusan miliar dolar supaya warganya mau untuk memiliki anak.
Menurut laporan terbaru dari PBB, secara global, meskipun masih ada lebih banyak negara yang mencoba menurunkan angka kelahirannya, jumlah negara yang ingin meningkatkan kesuburan telah meningkat lebih dari tiga kali lipat sejak tahun 1976.
Lantas, negara-negara mana saja yang habiskan triliun rupiah supaya warganya mau hamil? Berikut fakta menariknya, Minggu(28/5/2023):
1. Jepang
Diketahui Jepang mulai memperkenalkan kebijakan untuk mendorong pasangan memiliki lebih banyak anak pada 1990-an.
Jepang mencatat rekor kelahiran rendah, yakni kurang dari 800.000 pada tahun lalu. Perdana Menteri Fumio Kishida pun berjanji akan menggandakan anggaran untuk kebijakan terkait anak dari 10 triliun yen (Rp1.112 triliun) yang hanya lebih 2% dari produk domestik bruto di negara tersebut.
2. Korea Selatan
Kemudian di Korea Selatan melakukan hal yang sama pada tahun 2000-an.
Presiden Korea Selatan Yoon Suk-yeol mengungkapkan bahwa negaranya telah menghabiskan lebih dari USD200 miliar (Rp2.978 triliun) selama 16 tahun terakhir untuk mencoba meningkatkan populasi.
Tahun lalu pun Korea Selatan memecahkan rekor sendiri sebagai negara dengan tingkat kesuburan terendah di dunia, dengan rata-rata jumlah bayi per perempuan turun menjadi 0,78.
3. China
Pemerintah China saat ini khawatir dengan menurunnya tingkat kelahiran dan data resmi yang dikeluarkan pada Januari lalu menunjukkan bahwa jumlah penduduk menurun untuk pertama kalinya dalam enam dekade.
Kondisi tersebut membuat bisnis pengasuh bayi tersebut cukup menjanjikan, setidaknya untuk jangka pendek.
Sebuah kelompok yang terdiri atas puluhan wanita di China menggunakan seragam tenaga kerja warna merah muda, tampak berdiri berjejer di sebuah ruangan kelas, dengan wajah serius memijat dan membaringkan boneka bayi
Mereka adalah peserta di Pusat Pelatihan Yipeitong di Shanghai yang berasal dari berbagai daerah di China untuk belajar menjadi "yue sao" atau pengasuh yang akan merawat ibu dan bayi, khususnya pada bulan pertama setelah melahirkan.
Di Shanghai misalnya, biaya les privat lebih dari 200 yuan (sekitar Rp443 ribu) per jam, les musik lebih dari 400 yuan (sekitar Rp886 ribu), sementara kegiatan olahraga dan sains berkisar antara 6.000 sampai 8.000 yuan (sekitar Rp13,3 - Rp17,7 juta) per pekan pada masa liburan.
(Feby Novalius)