Inflasi Indonesia Bisa Melandai Asal Supply Terjaga

Dovana Hasiana, Jurnalis
Selasa 06 Juni 2023 14:01 WIB
Ilustrasi saham. (Foto: Freepik)
Share :

JAKARTA — Inflasi di Indonesia bisa melandai asalkan tingkat persediaan (supply) terjaga.

Pasalnya, selama ini dinamika dari ekonomi pada umumnya disebabkan oleh ketersediaan barang.

 BACA JUGA:

Ekonom sekaligus Direktur Eksekutif Next Policy, Fithra Faisal menyebut inflasi yang tetap terjaga dengan intervensi dari sisi persediaan yang dilakukan antara Bank Indonesia dan Pemerintah melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP-TPID).

“Ini terbukti ketika di bulan Agustus 2022, Presiden Jokowi menghimbau Gubernur dan masyarakat Indonesia untuk memulai gerakan untuk menanam cabai. Langkah sederhana, tapi terbukti efektif karena harga Cabai di bulan Oktober 2022 mengalami deflasi setelah sebelumnya melonjak di Januari 2022,” ujar Direktur Eksekutif Next Policy, Fithra Faisal dalam program Market Review IDX Channel, Selasa (6/6/2023).

Selain itu, langkah intervensi dari sisi persediaan juga dinilai efektif dalam mengendalikan inflasi untuk tetap berada di level 5%.

 BACA JUGA:

Padahal, saat itu terdapat kebijakan untuk mengurangi subsidi bahan bakar minyak (BBM) yang menyebabkan kenaikan harga.

Kendati demikian, lanjutnya, terdapat kemungkinan tekanan dari sisi persediaan bisa semakin melonjak. Fithra menilai, ini seperti bom waktu karena terdapat kesenjangan yang signifikan antara indeks harga produsen (producer price index/PPI) dengan indeks harga konsumen (consumer price index/CPI).

 

“Sehingga intervensi dari sisi supply harus terjaga dengan baik. Sementara kalau dari sisi permintaan, semua sudah terjaga cukup baik,” bebernya.

Adapun sisi permintaan Indonesia saat ini masih terjaga dengan baik terbukti dengan data analisis sentimen yang diteliti oleh Next Policy.

Fithra mengatakan, terjadi penurunan sentimen negatif di Twitter tentang harga pada bulan April.

“Kalau kita lihat di bulan Desember, terdapat 150 ribu tweets sentimen negatif terkait harga. Namun pada bulan April mengalami penurunan hingga mencapai 110 - 120 ribu. Walau masih dominan, tapi trennya mengalami penurunan. Sehingga dari sisi permintaan atau daya beli masyarakat saat ini masih terjaga dengan baik,” terangnya.

Sementara itu, Fithra menilai penahanan suku bunga BI 7-Day Reverse Repo Rate tetap pada angka 5,75% juga berperan dalam upaya untuk melandaikan inflasi.

“Penahanan suku bunga 5,75% ini suatu hal yg baik karena BI tidak buru-buru dalam menurunkan suku bunga meskipun tekanan eksternal mulai melemah. Ini karena BI masih mempertimbangkan faktor domestik khususnya pada periode pasca lebaran yang sangat krusial. Sehingga BI menunjukan komitmennya untuk mengendalikan inflasi sembari mempertahankan ketahanan ekonomi di tengah dinamika global,” pungkasnya.

(Zuhirna Wulan Dilla)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya