JAKARTA - Industri Tekstil mendapat angin segar dengan persiapan Tahun Ajaran Baru Sekolah. Hal ini diyakini mendorong dan membangkitkan industri tekstil yang sekarang sedang tertekan.
Direktur Industri, Tekstil, Kulit dan Alas Kaki Kementerian Perdagangan Adie Rochmanto Pandiangan mengatakan, permintaan pasar domestik khususnya pakaian jadi membuat kinerja industri tekstil membaik. Seiring persiapan masa Tahun Ajaran Baru Sekolah.
Selain itu, peritel tengah menghabiskan stok pakaian yang tersisa dari produksi Lebaran Idul Fitri pada akhir April lalu.
“Dugaan kami juga, kebijakan P3DN (Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri) untuk pemenuhan pakaian sekolah negeri dan pakaian ASN di pemerintah tengah berlangsung. Untuk mengantisipasi suplai tadi, persediaan berikutnya, produsen sudah mulai meningkatkan aktivitas produksi,” ucapnya, Rabu (28/6/2023).
Kendati demikian, Adie mengakui industri tekstil masih mengalami kontraksi lantaran masih tingginya impor yang menekan penyerapan penjualan produk dalam negeri. Meski telah meningkat dari bulan sebelumnya, kinerja industri tekstil masih belum memasuki puncaknya.
Dirinya berharap seiring masuknya tahun ajaran baru, kinerja industri tekstil kian membaik.
“Impor tekstil kita meningkat jika dibandingkan April. Meningkat cukup besar dari 133 ribu ton pada Mei dari 106 ribu ton. Volume impor tekstil ini yang kira-kira menyebabkan stok tekstil di pasar tidak terserap dan masih banyak hingga Juni 2023, sehingga menyebabkan penjualan tekstil dari garmen menurun,” jelas dia.