JAKARTA - Rachmat Pambudy resmi dilantik menjadi Menteri Perencanaan Pembangunan Nasiona (PPN)l/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) oleh Presiden Prabowo Subianto, Senin (21/10/2024).
Sosok Rachmat dikenal sebagai akademisi dari Institut Pertanian Bogor (IPB). Nama Rachmat Pambudy mencuat setelah menggantikan posisi Suharso Monoarfa sebagai Menteri PPN di era Presiden Joko Widodo.
Berikut ini adalah profil lengkapnya, sebagaimana melansir dari berbagai sumber.
Rachmat Pambudy lahir pada 23 Desember 1959 di Yogyakarta, Indonesia. dia merupakan seorang akademisi di bidang Agribisnis dan telah mengabdi di IPB sebagai Dosen Terakreditasi Bidang Agribisnis.
Selain berperan sebagai praktisi agribisnis dan staf pengajar di IPB, Rachmat Pambudy juga pernah aktif sebagai peneliti di Pusat Studi Pembangunan Lembaga Penelitian IPB dan di Jonggol Animal Science Teaching and Research Unit (JASTRU).
Selain peran tersebut, ia juga menjabat sebagai Guru Besar dalam bidang Kewirausahaan di IPB. Melalui posisinya ini, Rachmat Pambudy berkontribusi pada pengembangan pendidikan dan penelitian di sektor agribisnis dan kewirausahaan di Indonesia.
Rachmat Pambudy juga sempat menjabat sebagai staf ahli yang membidangi pengembangan agribisnis saat Bungaran Saragih menjadi menteri pertanian pada tahun 2000. Kemudian dirinya dipindahtugaskan di bidang hubungan antar lembaga sampai 2004.
Selain itu, dia pernah menjabat Ketua Dewan Pengawas Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik sejak 2003 hingga 2007. Rachmat Pambudy juga turut aktif sebagai pengurus dari Himpunan Kerukunan Tani Indonesia.
Di sektor usaha, Rachmat Pambudy juga menduduki posisi Komisaris Independen di perusahaan produsen minyak kelapa sawit di Indonesia, PT Nusantara Sawit Sejahtera (NSS) Tbk sejak 2018.
Untuk diketahui, NSS sendiri merupakan salah satu produsen minyak kelapa sawit terkemuka di Indonesia yang mengelola perusahaan perkebunan sawit di Kalimantan Tengah.
Rachmat Pambudy juga sebenarnya sempat diajukan untuk bergabung dalam Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II bentukan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhyono (SBY) membawa bendera Partai Gerindra.
Namun dirinya gagal masuk kabinet tersebut lantaran Partai Gerindra memutuskan untuk tidak bergabung dengan pemerintahan SBY pada 2009-2014.
(Dani Jumadil Akhir)