JAKARTA – Bencana banjir bandang di Aceh mengakibatkan 16 jembatan putus, 362 titik longsor, dan 37 titik banjir pada ruas jalan nasional. Hingga saat ini, seluruh ruas terdampak telah ditangani dan kembali fungsional.
Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menyiapkan penanganan permanen secara bertahap terhadap tujuh jembatan dan 28 titik longsor di ruas jalan nasional yang terdampak banjir bandang di Provinsi Aceh. Penanganan tersebut meliputi 18 titik longsor pada ruas Jalan Bireuen–Batas Kota Bireuen/Bener Meriah, dua titik longsor pada ruas Jalan Simpang Uning (Batas Kota Takengon)–Uwaq (Km 370), satu titik longsor pada ruas Jalan Batas Aceh Tengah/Gayo Lues–Blangkejereng–Batas Gayo Lues/Aceh Tenggara, satu titik longsor pada ruas Jalan Batas Gayo Lues/Aceh Tenggara–Kutacane, satu titik longsor pada ruas Jalan Genting Gerbang–Nagan Raya, serta lima titik longsor pada ruas Jalan Pameu–Genting Gerbang.
Dari tujuh lokasi jembatan yang akan ditangani, enam jembatan saat ini telah difungsionalkan melalui penanganan darurat, termasuk pemasangan jembatan Bailey, sembari dipersiapkan konstruksi permanennya dengan target pelaksanaan paling lambat Januari 2026. Sementara itu, satu jembatan terputus, yakni Jembatan Pantai Dona, telah memasuki tahap penanganan permanen yang diawali dengan pembongkaran jembatan eksisting.
Menteri PU Dody Hanggodo menegaskan bahwa pemerintah memprioritaskan keterjagaan akses logistik agar kebutuhan dasar masyarakat dan aktivitas ekonomi tidak terhambat akibat bencana.
“Dalam 50 hari pertama, fokus utama kami adalah memastikan tidak ada satu pun kabupaten dan kota yang terisolasi. Memang saat ini masih terdapat beberapa desa dan kecamatan yang aksesnya terbatas, dan itu menjadi sasaran penanganan lanjutan kami. Tim di lapangan terus bekerja tanpa henti bersama TNI dan Polri,” ujar Dody, Selasa (20/1/2026).
Jembatan pertama adalah Jembatan Krueng Tingkeum yang berada pada ruas Jalan Kota Bireuen–Batas Bireuen/Aceh Utara. Ruas ini telah kembali terhubung dan fungsional sejak 27 Desember 2025 melalui jembatan Bailey berkapasitas 30 ton, serta didukung jalur alternatif Bailey di Awe Geutah. Untuk meningkatkan keandalan jangka panjang, Kementerian PU melalui Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh menyiapkan penanganan permanen berupa duplikasi jembatan yang akan dimulai dengan pemancangan pertama pada 20 Januari 2026.
Selanjutnya, Jembatan Krueng Meureudu berada pada ruas Jalan Banda Aceh–Meureudu dan terhubung dengan ruas Meureudu–Batas Pidie Jaya/Bireuen. Saat ini, seluruh ruas tersebut telah fungsional untuk semua jenis kendaraan, termasuk setelah penyelesaian penimbunan oprit jembatan yang runtuh pada awal Desember 2025. Penanganan permanen difokuskan pada rehabilitasi jembatan eksisting serta perbaikan daerah aliran sungai (DAS) guna mengurangi risiko gerusan dan kerusakan berulang.
Jembatan Teupin Mane terletak pada ruas Jalan Kota Bireuen–Batas Bireuen/Bener Meriah. Ruas ini telah kembali terhubung sejak 18 Desember 2025 setelah pemasangan jembatan Bailey dan penanganan sementara pada titik longsoran. Selanjutnya, Kementerian PU akan melakukan penggantian jembatan permanen dengan jembatan rangka serta penanganan longsoran jalan untuk meningkatkan kapasitas dan keselamatan pengguna jalan.
Jembatan Krueng Beutong berada pada ruas Jalan Batas Aceh Tengah/Nagan Raya–Lhok Seumot–Jeuram. Akses pada ruas ini telah kembali fungsional bagi kendaraan roda dua dan roda empat sejak 8 Januari 2026 melalui jembatan Bailey. Penanganan permanen direncanakan berupa rehabilitasi DAS serta rekonstruksi badan jalan yang hilang guna memastikan stabilitas struktur dan kelancaran arus kendaraan.
Jembatan Lawe Mengkudu I terletak pada ruas Jalan Batas Gayo Lues/Aceh Tenggara–Kota Kutacane. Ruas ini telah kembali terhubung setelah penanganan sembilan titik longsor serta pemasangan jembatan Bailey pada Jembatan Lawe Mengkudu I dan Jembatan Lawe Penanggalan yang fungsional sejak 29 Desember 2025. Ke depan, akan dilakukan rehabilitasi bangunan atas jembatan serta rehabilitasi DAS sebagai solusi permanen.
Kemudian, Jembatan Krueng Pelang berada pada ruas Geumpang–Pameu–Genting Gerbang–Simpang Uning. Saat ini ruas tersebut telah fungsional pada segmen Geumpang–Pameu–Genting Gerbang serta segmen Genting Gerbang–Simpang Uning melalui jalan alternatif menuju Angkup. Jembatan Krueng Pelang sendiri mulai difungsionalkan dengan jembatan Bailey dan selanjutnya akan dilakukan penggantian permanen menggunakan jembatan rangka serta penanganan DAS.
Jembatan ketujuh, yakni Jembatan Pantai Dona, merupakan jembatan putus non-nasional yang berada pada ruas Simpang Semadam–Lawe Alas, berlokasi di Desa Salim Pinim, Kecamatan Tanoh Alas, Kabupaten Aceh Tenggara. Sesuai arahan Presiden, penanganan permanen jembatan tersebut telah mulai dilaksanakan.
Dengan dimulainya penanganan permanen terhadap tujuh jembatan dan 28 titik longsor pada Januari 2026, Kementerian PU menegaskan komitmennya tidak hanya memulihkan konektivitas pascabencana, tetapi juga meningkatkan ketahanan infrastruktur jalan dan jembatan nasional di Aceh agar lebih andal, aman, dan berkelanjutan.
(Feby Novalius)