RI Berada di Ring of Fire, Askrindo Antisipasi Risiko Force Majeure 

Dani Jumadil Akhir, Jurnalis
Rabu 04 Februari 2026 11:06 WIB
RI Berada di Ring of Fire, Askrindo Antisipasi Risiko Force Majeure (Foto: Freepik)
Share :

JAKARTA - Ancaman risiko force majeure seperti bencana alam, serangan siber, hingga gangguan sistem global kian menjadi tantangan serius bagi dunia usaha. PT Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo) memperkuat ketahanan operasional melalui Business Continuity Management System (BCMS).

Langkah Askrindo yang menjadi bagian Holding Asuransi dan Penjaminan Indonesia Financial Group (IFG) merupakan strategi utama dalam memastikan layanan tetap berjalan meski terjadi gangguan tak terduga yang berpotensi menghambat aktivitas bisnis dan merugikan pemangku kepentingan.

Direktur Kepatuhan, SDM, dan Manajemen Risiko Askrindo R Mahelan Prabantarikso, menegaskan bahwa risiko force majeure merupakan faktor yang tidak dapat dihindari, namun bisa dikelola melalui sistem kesiapsiagaan yang terstruktur.

“Risiko tidak bisa dihindari. Melalui BCMS, Askrindo memastikan telah memiliki tata cara yang jelas untuk menjaga keberlangsungan proses bisnis saat risiko terjadi. Yang terpenting, BCMS harus terus dilatih dan dibudayakan agar dapat dijalankan secara otomatis ketika dibutuhkan,” ujar Mahelan di Jakarta, Rabu (4/2/2026).

Bencana Alam hingga Serangan Siber Jadi Ancaman Nyata

Penguatan BCMS di Askrindo difokuskan pada mitigasi risiko yang bersumber dari natural hazard seperti gempa bumi, banjir, dan kebakaran, serta risiko man-made seperti serangan siber dan gangguan sistem teknologi informasi.

Sejumlah simulasi dan uji coba telah dilakukan di berbagai kantor cabang. Hasilnya, sistem keberlanjutan bisnis terbukti mampu berjalan efektif, termasuk saat terjadi gempa bumi yang sempat mengganggu aktivitas operasional di beberapa wilayah.

“Dengan perencanaan yang matang, kami bisa memastikan layanan kepada nasabah tetap berjalan meskipun terjadi gangguan besar,” jelas Mahelan.

 

Indonesia Rawan Gempa, Kesiapan Jadi Kunci

Ruben Damanik dari Reasuransi MAIPARK Indonesia menyoroti tingginya risiko bencana di Indonesia yang harus menjadi perhatian utama dunia usaha.  Dia menegaskan bahwa kondisi geografis Indonesia menuntut perusahaan untuk memiliki kesiapan operasional yang terencana dan berlapis.

“Indonesia berada di kawasan ring of fire yang aktif. Risiko gempa bukan hanya mengancam aset fisik, tetapi juga kelangsungan operasional perusahaan. Tanpa sistem keberlanjutan yang kuat, dampaknya bisa sangat besar,” ungkap Ruben.

Menurutnya, perusahaan perlu memiliki rencana berlapis agar mampu bertahan di tengah situasi darurat, termasuk pengamanan data, sistem kerja jarak jauh, hingga pemulihan operasional pascabencana.

(Dani Jumadil Akhir)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya