Bagi Gold Star Planners, melanjutkan bekerja merupakan aspirasi dan pilihan yang ditentukan oleh tujuan hidup, identitas, dan kesejahteraan (60%), berbeda dengan Stalled Starters (50%). Hampir setengah Gold Star Planners (48%) mengatakan mereka menantikan masa pensiun, yang ditopang oleh rasa aman secara finansial. Sementara itu, Stalled Starters lebih mungkin merasa tidak pasti atau pesimistis (20%).
Bagi Stalled Starters yang merencanakan pensiun lebih lambat dari perkiraan, atau sudah melakukannya, kebutuhan finansial merupakan salah satu alasan utama.
Sebanyak 43% mengatakan mereka menunda pensiun untuk menutup biaya pendidikan atau kebutuhan hidup anak. Namun, di kalangan Gold Star Planners, penundaan pensiun lebih bersifat pilihan. Sebanyak 83% menyebut menikmati aspek sosial dari pekerjaan, dan banyak yang menunjuk keinginan untuk tetap aktif secara fisik atau mental sebagai faktor pendorong (83%).
“Semakin banyak orang Indonesia yang umurnya lebih panjang. Namun, terlalu banyak yang masih tidak yakin apakah mereka bisa pensiun dengan nyaman. Itulah mengapa peran institusi keuangan semakin penting: menyediakan panduan dan solusi yang mengubah ketidakpastian menjadi pemberdayaan, serta membantu masyarakat membangun masa depan di mana pensiun dibentuk oleh peluang, bukan tekanan,” tambah Albertus.
Generative AI menjadi sumber informasi yang digemari, membawa risiko tersendiri bagi perencanaan pensiun
Seiring makin banyaknya masyarakat yang menggunakan generative AI untuk mengambil keputusan finansial, riset ini menyoroti meningkatnya risiko perencanaan pensiun secara mandiri tanpa panduan profesional yang terlatih dan terawasi.
Penggunaan alat seperti ChatGPT dan Google Gemini meningkat lebih dari dua kali lipat sejak survei sebelumnya, dari 13% menjadi 30%. Di saat yang sama, minat pada nasihat profesional menurun dibanding tahun lalu, dengan lebih sedikit individu berkonsultasi dengan bank (31% tahun ini vs 40% pada 2024) atau penasihat keuangan independen (31% vs 44%). Perubahan ini menunjukkan minat masyarakat terhadap kenyamanan digital dan rasa ingin tahu, tetapi juga menegaskan adanya kesenjangan literasi finansial di ranah perencanaan pensiun.
“AI bisa menjadi titik awal pencarian informasi dan sangat membantu, tetapi seringkali tidak memiliki konteks dan tingkat personalisasi saran yang dibutuhkan untuk mewujudkan keamanan finansial jangka panjang. Saat teknologi mengubah cara orang merencanakan pensiun, pelibatan nasihat dari ahli keuangan tetap penting agar keputusan yang diambil dapat ditopang oleh informasi yang akurat, seimbang, dan selaras dengan tujuan masing-masing individu,” ungkap Albertus.