Pertama, ketegangan meningkat setelah Trump mengirimkan kapal induk USS Gerald R. Ford sebagai tambahan kekuatan di samping USS Abraham Lincoln. Langkah ini dinilai sebagai sinyal persiapan serangan terhadap Iran bersama Israel.
Kemudian, pasar masih merespons negatif atau apatis terhadap penunjukan Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed oleh Donald Trump, yang menciptakan ketidakpastian baru.
Selanjutnya, inflasi inti AS per Januari 2026 tercatat 2,4 persen, lebih rendah dari konsensus ekonom sebesar 2,5 persen. Hal ini memperkuat indikasi bahwa Bank Sentral AS akan kembali menurunkan suku bunga, yang menjadi sentimen positif bagi emas.
Terakhir, China terus menambah cadangan emasnya secara signifikan guna menggantikan dolar AS, meski pasar juga mewaspadai adanya unsur spekulatif dalam lonjakan harga ini.
Ibrahim melihat bahwa tingginya permintaan untuk cadangan devisa, terutama dari China, membuktikan bahwa emas masih menjadi aset pelindung utama. Ia bahkan memberikan proyeksi yang cukup ambisius untuk masa depan.
"Permintaan untuk logam mulia terus mengalami kenaikan, bahkan untuk mencapai akhir tahun mencapai harga Rp6.500 (per troy ons) kemungkinan akan terjadi," pungkasnya.
(Taufik Fajar)