Aluminium adalah logam strategis masa depan. Ia digunakan dalam kendaraan listrik, infrastruktur energi, konstruksi modern, hingga teknologi penerbangan. Dengan menguasai produksinya dari hulu ke hilir, Indonesia memperkuat posisinya dalam rantai pasok global.
Hilirisasi di Mempawah juga membuka peluang baru, tumbuhnya industri turunan, terciptanya lapangan kerja, serta berkembangnya ekosistem industri nasional yang lebih kuat dan berkelanjutan.
Hilirisasi bukan sekadar proses industri. Ia adalah pernyataan kedaulatan, bahwa kekayaan alam Indonesia akan menjadi fondasi kemajuan bangsa, bukan sekadar komoditas yang pergi tanpa jejak nilai. Dan dari Mempawah, langkah besar itu telah dimulai.
Direktur Utama Inalum Melati Sarnita menegaskan bahwa hilirisasi bauksit merupakan agenda strategis nasional untuk memperkuat kemandirian industri sekaligus memperbaiki posisi tawar Indonesia dalam komoditas aluminium global. Inalum menargetkan swasembada aluminium pada 2030 sebagai puncak dari transformasi ekosistem industri ini.
"Hilirisasi bauksit menjadi aluminium merupakan agenda strategis nasional untuk memperkuat kemandirian sektor industri Indonesia. Percepatan pembangunan smelter dan refinery menjadi upaya untuk menekan ketergantungan impor, meningkatkan daya saing, serta membangun rantai pasok aluminium yang terintegrasi dari hulu hingga hilir yang memberikan pertumbuhan ekonomi bagi Indonesia," katanya.
Fasilitas terpadu di Mempawah terdiri dari Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase 2 dan Smelter Aluminium. SGAR Fase 2, yang dikelola oleh PT Borneo Alumina Indonesia, anak usaha Inalum bersama Antam memiliki kapasitas produksi 1 juta ton alumina per tahun.
Dengan tambahan ini, total kapasitas produksi alumina domestik meningkat menjadi 2 juta ton per tahun. dengan penyerapan bijih bauksit sebesar 6 juta ton per tahun yang dipasok dari seluruh area Izin Usaha Pertambangan PT Aneka Tambang Tbk di Kabupaten Mempawah dan Kabupaten Landak, Kalimantan Barat. Sementara itu, pasokan listrik untuk Smelter Aluminium kedua akan diperoleh dari PT Bukit Asam Tbk.
Smelter Aluminium Mempawah akan memiliki kapasitas produksi 600.000 ton per tahun. Seluruh produksi diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan domestik, yang saat ini masih bergantung pada impor sekitar 54 persen dari total kebutuhan nasional 1,2 juta ton per tahun.
Jika digabungkan dengan Smelter Inalum di Kuala Tanjung, Kabupaten Batu Bara, total kapasitas produksi aluminium Inalum akan mencapai sekitar 900.000 ton per tahun, mendekati ambang swasembada nasional.
Fasilitas ini juga akan memastikan pasokan alumina domestik yang lebih kuat dan stabil untuk kebutuhan smelter aluminium MIND ID.
Kedua proyek tersebut akan memperkuat integrasi vertikal industri aluminium nasional, menekan impor bahan baku, meningkatkan devisa, serta memacu daya saing manufaktur dalam negeri termasuk industri kendaraan listrik, energi matahari, energi angin, dan berbagai sektor strategis lainnya.