Impor Produk Pertanian dari AS
Alokasi ini untuk beras klasifikasi khusus asal AS, namun realisasinya tetap tergantung permintaan dalam negeri. Dalam 5 tahun terakhir, Indonesia tidak melakukan impor beras dari AS. Jumlah 1.000 ton hanya sekitar 0,00003% dari total produksi beras nasional (34,69 juta ton, 2025).
Indonesia mengimpor ayam AS berupa live poultry untuk Grand Parent Stock (GPS) sebanyak 580.000 ekor (USD 17–20 juta). GPS sangat dibutuhkan peternak lokal. Bagian ayam seperti leg quarters, breasts, legs, atau thighs tetap tunduk persyaratan kesehatan hewan, keamanan pangan, dan ketentuan teknis.
Industri makanan domestik juga menggunakan mechanically deboned meat (MDM) sebagai bahan baku sosis, nugget, bakso, dan olahan lain (120.000–150.000 ton per tahun). Pemerintah tetap memprioritaskan perlindungan peternak lokal.
Tidak. Impor jagung dari AS hanya untuk bahan baku industri makanan & minuman (MaMin), volume tertentu per tahun. Tahun 2025, kebutuhan MaMin sekitar 1,4 juta ton. Produk jagung AS memiliki spesifikasi sesuai standar industri.
Nilai importasi minuman alkohol asal AS sekitar USD 86,1 juta (7% dari total importasi). Tujuan: mendukung daya saing industri domestik, diversifikasi produk, dan meningkatkan tourism spending. Tetap tunduk persyaratan perizinan dan BPOM.
Tidak. Hanya shredded worn clothing (SWC) yang diimpor sebagai bahan baku industri kain perca dan tekstil daur ulang. Tidak ada pakaian bekas siap pakai dijual kembali ke pasar. Industri dalam negeri menampung seluruh SWC.