JAKARTA – Peta industri nikel dan baterai kendaraan listrik di Indonesia tidak hanya diperebutkan di konsesi tambang, tetapi di bursa saham. PT Berkah Prima Perkasa Tbk (BLUE) mengumumkan penandatanganan perjanjian jual beli bersyarat (CSPA) dengan Dragonmine Mining (Hong Kong) Limited, yang berencana mengambil alih 80% saham perusahaan.
Langkah ini menandai potensi perubahan strategi bisnis BLUE dan menegaskan peran Indonesia sebagai pusat investasi bagi raksasa industri baterai global.
Menurut Head of Research NH Korindo Sekuritas Indonesia Ezaridho Ibnutama, terdapat potensi bagi BLUE untuk mengubah haluan model bisnisnya pasca perubahan pengendali. Langkah ini berpotensi dapat memperbaiki kinerja perusahaan-perusahaan dengan performa rendah di Bursa Efek Indonesia pada masa di mana pengawasan masih minim, sehingga memungkinkan perusahaan dengan kualitas yang lebih baik untuk masuk melalui skema backdoor listing.
Selain itu, BEI juga telah merilis regulasi baru yang memungkinkan perusahaan tercatat untuk mengubah kode saham (ticker) mereka.
“Sebagai referensi, sekitar 30% dari seluruh perusahaan di BEI saat ini mencatatkan kerugian bersih. Dengan adanya reformasi pasar modal yang mewajibkan porsi saham publik (free float) lebih tinggi berdasarkan ukuran kapitalisasi pasar, regulasi baru ini memicu kemacetan baru pada aksi IPO,” ungkap Ezar, Senin (23/2/2026).
Langkah Dragonmine terhadap BLUE bukanlah fenomena tunggal. Untuk memahami masa depan BLUE, dapat dilihat dari apa yang dilakukan CNGR terhadap PACK. Perusahaan yang awalnya bergerak di bidang kemasan ini dicaplok oleh PT Eco Energi Perkasa, yang dimiliki oleh Deng Weiming, pendiri CNGR, salah satu produsen prekursor baterai terbesar dunia.
Pasca-akuisisi, PACK berubah nama menjadi PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk dan mengumumkan rencana rights issue jumbo untuk menyerap aset tambang dan smelter nikel.
BLUE sebagai pemain industri tinta dan alat tulis, kini menghadapi prospek akuisisi 80% saham oleh Dragonmine. Mengingat Dragonmine dimiliki secara langsung oleh Huayou yang sudah memiliki investasi miliaran dolar di Morowali dan Pomalaa, transmisi aset nikel ke dalam BLUE diprediksi tinggal menunggu waktu.
Pergerakan harga saham BLUE melonjak signifikan dengan kenaikan 117% year to date dan hampir 1.900% dalam setahun. Namun harga saham BLUE sempat terkoreksi ditengah kondisi pasar yang volatile saat mengumumkan fakta CSPA ini.
Bagi raksasa global seperti Huayou dan CNGR, mengakuisisi emiten dengan kapitalisasi pasar kecil seperti BLUE dan PACK, menawarkan jalur ekspres ketimbang melakukan IPO dari nol yang memakan waktu lama. Mereka menggunakan perusahaan listing agar dapat menarik modal dari investor lokal dan institusi melalui Rights Issue untuk mendanai proyek hilirisasi nikel di Indonesia.
(Feby Novalius)