Hendra menilai perubahan outlook tersebut memang bukan penurunan rating. Namun, pasar membaca langkah itu sebagai sinyal meningkatnya risiko ke depan, terutama terkait ketahanan fiskal dan stabilitas kebijakan.
"Dalam kondisi global yang sudah diliputi ketegangan geopolitik dan kenaikan harga energi, perubahan outlook ini menjadi sentimen tambahan yang mempercepat aksi jual, khususnya dari investor asing yang sensitif terhadap risiko makro," ujarnya.
Atas berbagai parameter tersebut, Hendra menegaskan bahwa koreksi IHSG bukan hanya dipicu perang atau kenaikan harga minyak semata. Ada pula faktor teknikal berupa aksi ambil untung setelah reli panjang sejak awal tahun, pelemahan rupiah akibat capital outflow jangka pendek, serta kekhawatiran bahwa lonjakan inflasi energi dapat membatasi ruang pelonggaran suku bunga.
"Kombinasi sentimen eksternal dan domestik inilah yang membuat tekanan pasar terasa lebih dalam dan berlangsung cepat dalam waktu singkat," kata Hendra.
(Feby Novalius)