JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan tajam pekan ini, turun sebesar 7,89%. Indeks kini berada di level 7.500-an setelah sebelumnya sempat bertahan di level psikologis 8.200.
Menanggapi anjloknya IHSG, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan sentimen negatif ini dipicu oleh keputusan lembaga pemeringkat internasional, Fitch Ratings, yang merevisi prospek (outlook) utang Indonesia dari “Stabil” menjadi “Negatif”.
Meski pasar bereaksi negatif, Purbaya menegaskan bahwa kondisi fundamental ekonomi nasional tetap kuat dan tidak mengalami perubahan struktural yang signifikan. Menurutnya, Indonesia justru berada dalam tren percepatan pertumbuhan.
"Jadi tidak perlu takut, S&P, Fitch yang mengeluarkan outlook negatif. Jika digabung dengan kondisi global, saham turun, perusahaan terdampak. Namun fondasi kita masih kuat, tidak ada yang berubah. Kita masih dalam fase akselerasi pertumbuhan ekonomi," kata Purbaya dalam Media Briefing dan Buka Puasa di Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (6/3/2026).
Purbaya menilai koreksi harga saham domestik merupakan fenomena jangka pendek akibat persepsi lembaga rating. Ia justru melihat penurunan ini sebagai peluang investasi yang menarik bagi masyarakat dan pelaku pasar, serta meminta publik untuk tidak panik.
"Kalau saham turun lagi, itu sebenarnya saat yang tepat untuk membeli. Jadi tidak perlu takut," ujarnya.
Merespons rentetan peringatan dari berbagai lembaga keuangan global, termasuk S&P, Moody’s, Goldman Sachs, dan MSCI, Purbaya menegaskan pemerintah terus bekerja menutup celah kelemahan dalam postur ekonomi nasional.
Sebagai Bendahara Negara, ia secara aktif memantau dinamika pasar dan parameter fiskal untuk melakukan perbaikan secara berkelanjutan.
"Fondasinya sedang diperbaiki, saya terus memonitor kelemahan-kelemahan ekonomi. Yang jelas, perbaikan akan terus dilakukan ke depan," jelasnya.
Sebagai informasi, Fitch Ratings mempertahankan peringkat kredit utama Indonesia pada level BBB (Investment Grade), namun mengubah prospeknya menjadi Negatif. Revisi ini mencerminkan kekhawatiran terkait ketidakpastian kebijakan bauran ekonomi di masa depan serta potensi tekanan fiskal, menjadi catatan serius bagi pemerintah untuk menjaga stabilitas makroekonomi di tengah ambisi pertumbuhan yang tinggi.
(Feby Novalius)