JAKARTA – Rupiah diprediksi menghadapi tekanan berat dalam beberapa bulan ke depan, dengan potensi melemah hingga level Rp20.000 per dolar AS jika gejolak eksternal terus meningkat. Konflik di Iran, lonjakan harga minyak, serta arus modal yang berpindah ke aset safe haven menjadi faktor utama yang menekan mata uang Garuda.
Managing Director Political Economy and Policy Studies, Anthony Budiawan, menekankan bahwa meski cadangan devisa masih relatif besar, sejarah menunjukkan pelemahan tajam rupiah dapat terjadi cepat, bahkan dalam tiga hingga enam bulan, dan bisa memicu krisis valuta jika respons kebijakan terlambat.
Berikut fakta-fakta terkait prediksi pelemahan rupiah, Minggu (29/3/2026):
“Data historis menunjukkan depresiasi rupiah sebesar 15–20 persen bukan skenario ekstrem, tetapi sudah berulang kali terjadi. Dengan posisi rupiah sekitar Rp17.000 saat ini, pelemahan 20 persen akan membawa kurs ke sekitar Rp20.400 per dolar AS,” ujar Anthony Budiawan.
Angka ini disebut bukan lagi spekulatif, melainkan berbasis data historis. Dalam situasi geopolitik yang lebih ekstrem, depresiasi rupiah bahkan dapat melampaui 20 persen dalam waktu relatif singkat, yakni tiga hingga enam bulan.
Sejak 2014 hingga 2025, Indonesia telah mengalami tiga episode tekanan besar terhadap rupiah:
September 2014–September 2015: Cadangan devisa turun US$9,44 miliar, rupiah melemah 20% dari Rp12.185 menjadi Rp14.650 per dolar AS.
Januari–Oktober 2018: Cadangan devisa turun US$17,13 miliar, rupiah melemah 13,5% dari Rp13.388 menjadi Rp15.202 per dolar AS.
Awal pandemi COVID-19 2020: Dalam satu bulan, cadangan devisa turun US$10,7 miliar, rupiah melemah hampir 20% dari Rp13.675 menjadi Rp16.575 per dolar AS.
Anthony menekankan, cadangan devisa yang besar tidak menjamin stabilitas rupiah. “Yang menentukan rupiah adalah apakah aliran dana eksternal (utang) tetap masuk atau berhenti. Stabilitas rupiah tergantung pada kemampuan Indonesia untuk terus mengakses utang luar negeri,” ujarnya.