3. Cadangan Devisa Jadi Sorotan
Anthony menegaskan, narasi bahwa ekonomi Indonesia kuat karena cadangan devisa besar tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental. Sektor fiskal, moneter, dan nilai tukar masih rapuh serta sensitif terhadap guncangan eksternal, terutama dinamika geopolitik global.
“Ekonomi Indonesia sangat rentan terhadap guncangan eksternal. Konflik di Iran berpotensi mengganggu pasokan minyak dan gas global, dengan implikasi serius terhadap ekonomi dunia, termasuk Indonesia,” jelasnya.
Menurut Anthony, cadangan devisa Indonesia besar secara angka, tetapi sebagian besar merupakan akumulasi utang luar negeri yang tidak digunakan untuk kegiatan produktif, melainkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui intervensi.
Faktor eksternal seperti potensi konflik di Iran disebut dapat mempercepat tekanan terhadap rupiah melalui kenaikan harga minyak, gangguan rantai pasok global, serta perpindahan modal dari emerging market ke aset safe haven.
Berdasarkan data historis, pelemahan 15–20 persen dari posisi rupiah saat ini sekitar Rp17.000 bisa membawa kurs menuju Rp20.400 per dolar AS dalam tiga hingga enam bulan ke depan.
Anthony mengingatkan, pengalaman krisis moneter 1997 menunjukkan pelemahan rupiah 25–30 persen dalam waktu singkat dapat memicu krisis valuta yang lebih luas jika respons kebijakan terlambat.
(Feby Novalius)