Dalam pelaksanaannya, lintasan Jawa-Sumatera-Bali tetap menjadi simpul vital pergerakan nasional. Berbagai langkah antisipatif dilakukan secara terukur, mulai dari pengaturan pola operasi kapal berbasis kebutuhan harian, penerapan skema Tiba-Bongkar-Berangkat saat terjadi kepadatan, delaying system melalui titik buffer zone, pemanfaatan digitalisasi Ferizy, hingga kebijakan stimulus berupa diskon tarif dan single tarif guna mendorong distribusi perjalanan yang lebih merata dan inklusif.
Keberhasilan ini juga diperkuat oleh koordinasi intensif lintas sektor. Seperti disampaikan Menhub, penyelenggaraan angkutan Lebaran tahun ini merupakan kerja besar bersama, yang melibatkan koordinasi lintas sektor secara intensif, baik antar kementerian/lembaga, pemerintah daerah, operator transportasi, maupun seluruh pemangku kepentingan terkait lainnya.
"Kolaborasi ini menjadi kunci penting untuk memastikan masyarakat dapat melaksanakan perjalanan mudik dan arus balik dengan aman, selamat, dan lancar," katanya.
Sejalan dengan hal tersebut, Heru juga menyampaikan apresiasi atas dukungan penuh seluruh pihak dalam menjaga kelancaran layanan. Kepatuhan masyarakat dalam merencanakan perjalanan sejak dini dan melakukan pembelian tiket melalui Ferizy sangat berkontribusi dalam menjaga kelancaran arus mudik dan balik.
Heru menjelaskan bahwa dinamika operasional juga terjadi pasca berakhirnya kebijakan pembatasan kendaraan logistik sumbu tiga ke atas yang diatur dalam Surat Keputusan Bersama (SKB). Pembatasan tersebut berlaku di lintasan Bakauheni–Merak pada 23-29 Maret 2026 serta Ketapang-Gilimanuk pada 13-29 Maret 2026.
"Pasca dibukanya kembali pembatasan tersebut, terjadi lonjakan signifikan kendaraan logistik yang masuk ke pelabuhan, khususnya di lintasan Merak-Bakauheni dan Ketapang-Gilimanuk dengan kondisi antrian 3-10 kilometer. Kondisi ini berdampak pada peningkatan antrean kendaraan, namun tetap dalam kendali melalui penguatan manajemen operasional di lapangan," jelas Heru.
Untuk merespons kondisi tersebut, ASDP terus melakukan percepatan layanan secara adaptif. Pihaknya mengoptimalkan pola Tiba–Bongkar–Berangkat (TBB), menambah trip dan armada kapal, serta melakukan pengendalian ritme kendaraan melalui buffer zone.
"Langkah ini dilakukan untuk memastikan arus kendaraan logistik tetap terlayani dengan baik tanpa mengganggu kelancaran arus penumpang,” tambahnya.