JAKARTA - PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA) berencana melakukan penawaran saham perdana atau Initial Public Offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI). Perseroan akan melepas sebanyak 1,8 miliar saham atau setara 20,75% dari total modal ditempatkan dan disetor penuh, dengan kisaran harga Rp150 hingga Rp170 per saham.
Dari aksi korporasi tersebut, perusahaan menargetkan perolehan dana hingga Rp306 miliar.
Sebagai perusahaan logistik yang berdiri sejak 1992, WBSA menyediakan layanan end-to-end, mulai dari transportasi darat, freight forwarding, pergudangan, hingga Inland Logistics Terminal (ILT). Hingga September 2025, total aset perusahaan tercatat Rp1,15 triliun dengan laba bersih Rp24,39 miliar.
Investor dapat mengakses penawaran saham perdana WBSA melalui sistem e-IPO yang tersedia di sejumlah platform sekuritas, termasuk aplikasi IPOT milik Indo Premier Sekuritas.
Chief Marketing Officer Indo Premier Sekuritas, Sergio Ticoalu, mengatakan minat investor ritel terhadap IPO terus meningkat.
“Minat investor ritel terhadap IPO terus meningkat. Kami ingin memastikan akses yang lebih inklusif dan berbasis teknologi agar investor dapat mengambil keputusan investasi secara lebih tepat,” ujarnya, Kamis (2/4/2026).
Ia menambahkan, fitur indikator real-time yang tersedia di aplikasi dapat membantu investor memantau pergerakan saham sejak awal perdagangan.
“Fitur real-time indicator yang kami hadirkan menjadi diferensiasi penting, terutama untuk saham IPO yang belum memiliki data historis,” katanya.
Adapun pemesanan saham IPO dapat dilakukan melalui mekanisme e-IPO, mulai dari registrasi akun, pengisian dana rekening dana nasabah (RDN), hingga proses pemesanan saham.
Berikut rincian penawaran saham :
* Jumlah saham: maksimal 1,8 miliar saham
* Harga penawaran: Rp150–Rp170 per saham
* Target dana: hingga Rp306 miliar
* Kepemilikan publik: 20,75%
* Masa bookbuilding: 25–27 Maret 2026
* Masa penawaran umum: 1–8 April 2026
* Tanggal pencatatan di BEI: 10 April 2026
•
Mengacu pada SEOJK No. 25/2025, investor ritel berpeluang memperoleh penjatahan minimum 10 lot per single investor identification (SID) untuk emisi tertentu, termasuk WBSA yang masuk kategori Golongan III. Namun, terdapat batas maksimal pemesanan sebesar 10% dari total nilai IPO atau Rp30,6 miliar per SID, serta ketentuan ketersediaan dana dalam sistem “no funds, no order”.
Perseroan berencana menggunakan dana hasil IPO untuk ekspansi anorganik, termasuk akuisisi PT Bermuda Inovasi Logistik (BIL) guna memperkuat lini bisnis angkutan laut. Langkah ini diharapkan meningkatkan efisiensi operasional serta memperkuat posisi perusahaan di industri logistik nasional.
IPO WBSA dinilai menjadi salah satu opsi bagi investor yang ingin melakukan diversifikasi portofolio di sektor logistik.
“Kami mendorong investor memanfaatkan momentum IPO ini dengan strategi yang matang dan berbasis informasi,” tutup Sergio.
(Taufik Fajar)