JAKARTA - Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan kondisi ketahanan pangan Indonesia saat ini berada dalam posisi yang sangat aman. Berdasarkan data terbaru, mayoritas komoditas pangan utama tercatat mengalami surplus produksi yang signifikan, bahkan melebihi total kebutuhan konsumsi masyarakat.
Deputi 1 Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menjelaskan bahwa kepastian data ini merujuk pada hasil kolaborasi antara Kementerian Pertanian, Bapanas, dan data primer dari Badan Pusat Statistik (BPS).
“Nah dari data ini, sebenarnya kita bisa melihat dari 11 atau 12 pangan yang kita tangani, maka sebetulnya sembilan pangan kita sangat-sangat melebihi. Kita produksi data-data ini memenuhi kebutuhan kita yang lebih. Ada ketersediaan, ada sisa, ada stok-stoknya,” ujar Ketut dalam media briefing di Auditorium BAKOM di Jakarta, Senin (20/4/2026).
Ketut merinci sembilan jenis pangan yang ketersediaannya saat ini sangat mencukupi, yaitu beras, jagung, bawang merah, cabai besar, cabai rawit, daging ayam ras, telur ayam ras, dan minyak goreng.
Pencapaian ini, menurutnya, merupakan bukti nyata dari upaya pemerintah dalam mengejar target swasembada pangan yang menjadi prioritas Presiden Prabowo Subianto. Pihaknya meyakini bahwa ketersediaan yang melimpah ini merupakan hasil kerja keras kementerian teknis dalam mendorong produksi di hulu.
“Artinya kalau kita bicara swasembada, kita berpikirnya bagaimana Mentan mengeluarkan data kita. Beliau sibuk sekali sekali ke pasar, artinya, upaya pemerintah demi memenuhi kebutuhan rakyat sebagaimana yang dicita-citakan oleh Pak Presiden,” tambahnya.
Lebih lanjut, Ketut menekankan bahwa klaim surplus ini tidak didasarkan pada asumsi internal semata, melainkan pada metodologi penghitungan yang dilakukan oleh BPS sebagai lembaga otoritas data. Hal ini menunjukkan transparansi pemerintah dalam memantau neraca pangan nasional.