Melalui pelatihan tersebut, Ida tidak hanya memahami soal kriteria panen, tetapi juga aspek perawatan kebun yang sebelumnya kerap terabaikan. “Saya juga baru tahu kalau pohon sawit yang sudah mati tidak boleh dibiarkan. Dulu saya biarkan saja karena tidak tahu. Setelah dijelaskan, ternyata itu bisa jadi sumber penyakit dan menular ke tanaman lain, jadi sekarang langsung ditebang,” ungkapnya.
Melalui program ini, produktivitas kebun petani diharapkan meningkat seiring tumbuhnya kesejahteraan secara berkelanjutan. Program pelatihan Perkasa dirancang dengan memadukan 40% teori dasar dan 60% praktik langsung di lapangan secara intensif selama tiga hari.
Harapannya, petani peserta dapat langsung mempraktikkan cara merawat tanaman secara presisi, sehingga mereka pulang dengan kepercayaan diri untuk menjadi ahli di kebun sendiri.
Syarifah, peserta pelatihan sekaligus Sekretaris Desa Sembuluh Dua menjelaskan banyak petani, tak terkecuali petani perempuan di desanya selama ini mengelola kebun sawit seadanya karena keterbatasan pengetahuan. Alhasil, produktivitas yang didapat juga ala kadarnya.
“Masyarakat sebelumnya tidak mengetahui bagaimana cara pemupukan, panen, dan perawatan tanaman yang benar sehingga hasil yang didapat tidak maksimal. Setelah ikut pelatihan kami jadi tahu waktu yang tepat, cara yang benar, dan alasan di balik setiap tindakan di kebun," katanya.
Untuk mengoptimalkan hasil pelatihan, perusahaan juga melakukan monitoring pascapelatihan secara berkala. Tujuannya untuk memastikan para petani benar-benar menerapkan ilmu yang didapat di kebun masing-masing. Pendampingan ini menjadi kunci agar transformasi cara bertani tidak hanya bersifat sesaat, melainkan menjadi standar baru bagi produktivitas mereka.
(Dani Jumadil Akhir)