JAKARTA - Petani sawit perempuan mulai mengambil peran lebih besar dalam pengelolaan kebun, dari sekadar mengikuti kebiasaan menjadi pengelola yang lebih mandiri. Di berbagai wilayah sentra sawit rakyat, perempuan kini semakin aktif terlibat dalam pengelolaan kebun.
Mulai dari memilih bibit, menentukan waktu pemupukan, hingga memastikan proses panen dilakukan dengan benar. Peran ini tumbuh seiring meningkatnya kesadaran bahwa keberhasilan kebun tidak hanya ditentukan oleh tenaga, tetapi juga pengetahuan.
Namun, perjalanan menuju perubahan tersebut tidak selalu mulus. Banyak petani perempuan sebelumnya menghadapi keterbatasan akses informasi dan minimnya pendampingan teknis. Praktik berkebun pun kerap dilakukan berdasarkan kebiasaan turun-temurun, tanpa pemahaman yang cukup mengenai standar budidaya yang baik.
Ida Farida, petani sawit dari Desa Mendik, Paser, Kalimantan Timur, menjadi salah satu contoh. Dia mengaku sebelumnya memanen tandan buah segar (TBS) tanpa benar-benar memahami tingkat kematangan yang ideal. Buah yang dipanen sering kali belum matang sempurna, sehingga harga jual yang diterima pun tidak optimal saat dijual ke pabrik kelapa sawit.
“Saya benar-benar baru mengetahui kalau sawit yang masih kecil itu tidak boleh dipotong dulu. Sebelumnya saya belum tahu, jadi asal panen saja. Sekarang jadi tahu ilmunya, jadi lebih paham mana yang sudah layak dipanen dan mana yang belum, supaya hasilnya juga bisa lebih bagus,” ujarnya dalam keterangannya, Jakarta, Rabu (22/4/2026).
Perubahan dalam cara pandang tersebut mulai dirasakan setelah mengikuti pelatihan Petani Berkualitas dan Sejahtera (Perkasa) dari PT Muaratoyu Subur Lestari - member of PT Triputra Agro Persada Tbk yang berfokus pada peningkatan kapasitas petani melalui pembelajaran praktis di lapangan.