"Saya melihat wacana PPN jalan tol lebih banyak mencerminkan kecemasan negara dalam mengejar penerimaan daripada keberanian negara membenahi desain fiskalnya sendiri," kata pakar kebijakan publik dari Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, dalam keterangan tertulis, Rabu (22/4).
Achmad menyoroti dampak ekonomi turunan secara korektif dari kebijakan pajak, sebab banyak pelaku UMKM, sopir travel, pengusaha distribusi kecil, hingga pekerja komuter memanfaatkan jalan tol karena kebutuhan efisiensi, bukan kemewahan.
"Dalam teori fiskal, pajak konsumsi memang tampak netral. Dalam kenyataan sosial, ia bisa sangat tidak netral karena beban akhirnya ditransfer sepanjang rantai ekonomi. Ia menjalar ke biaya usaha, harga jasa, dan harga kebutuhan pokok," ucap Achmad.
(Taufik Fajar)