JAKARTA - Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assu’aibi memproyeksikan nilai tukar rupiah akan melemah ke level Rp17.550 per dolar pada pekan depan.
Ia mengatakan, sentimen sentimen global yang masih dipenuhi ketidakpastian geopolitik serta penguatan dolar AS menjadi faktor utama yang membayangi pergerakan mata uang Garuda.
"Kemudian kalau rupiah sendiri, kemungkinan besar dalam perdagangan di minggu depan itu di 17.550," ujarnya dalam pernyataan resmi, Minggu (3/5/2026).
Menurut dia, penguatan dolar AS didorong meningkatnya permintaan aset safe haven di tengah memanasnya konflik geopolitik, terutama di kawasan Timur Tengah. Kondisi tersebut mendorong investor global keluar dari aset berisiko di negara berkembang dan beralih ke dolar AS.
"Apa yang menyebabkan indeks dolar menguat, ada beberapa faktor. Memang yang paling utama adalah geopolitik, tapi masih ada perpolitikan di Amerika, perang dagang, kebijakan bank sentral, dan supply dan demand," lanjutnya.
Selain faktor geopolitik, Ibrahim menilai kebijakan perdagangan Amerika Serikat juga berpotensi menambah tekanan pasar. Rencana maupun penerapan tarif impor baru terhadap sejumlah mitra dagang dinilai dapat meningkatkan ketegangan dagang global dan memicu volatilitas pasar keuangan.