Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menjelaskan potensi sumber gas di daerah transmigran tersebut mencapai 11,64 miliar kaki kubik, dengan cadangan minyak sebesar 0,96 juta barel atau nyaris 1 juta barel. Semua potensi eksploitasi sumber daya ini diestimasikan didapat dari 2026-2032.
“Untuk potensi gasnya itu 11,64 miliar kaki kubik, untuk minyaknya 1 juta barel. Kami apresiasi sekali kepada Kementerian Transmigrasi beserta jajaran yang telah mengizinkan kami untuk melakukan eksplorasi dan produksi. Kebetulan akan dilaksanakan dan waktu dekat, yaitu bulan depan kita mulai," kata dia.
"Semoga apa yang kita lakukan pada hari ini menjadi momentum sejarah bagi kita untuk melakukan kerjasama sebagaimana amanat Undang-Undang 45 pasal 33, minyak dan gas bumi kekayaan di dalamnya digunakan semaksimalnya untuk kemakmuran masyarakat," imbuhnya.
Djoko menyampaikan bahwa 13 sumur tersebut merupakan sumur baru yang nantinya akan dibor oleh PT Pertamina Hulu Sanga Sanga (PHSS).
Salah satu dari 13 sumur tersebut adalah sumur pengembangan MUT-346 OS HZ dengan target laju produksi sebesar 7,3 juta kaki kubik gas per hari. Adapun proyeksi cadangan gas di sumur tersebut sebesar 3,6 miliar kaki kubik gas. 1 juta kaki kubik gas setara dengan 1.000 MMBTU.
Dengan asumsi harga gas 7,7 dolar AS per MMBTU pada 2026–2031 dan nilai tukar dolar terhadap rupiah Rp17 ribu, diperkirakan nilai cadangan tersebut setara dengan Rp471 miliar.
Pendapatan kotor dari pengembangan sumur tersebut diperkirakan sekitar Rp355 miliar, dan kisaran pendapatan pemerintah berada di angka Rp87 miliar setelah pajak.
“Kebetulan akan dilaksanakan dalam waktu dekat, yaitu bulan depan kami mulai ngebor,” ujar Djoko Siswanto.
(Dani Jumadil Akhir)