Menurutnya, kinerja anak perusahaan yang tidak sehat pada akhirnya juga dapat berdampak pada holding dan negara.
“Negara tentu tidak ingin BUMN hanya tampak besar di atas kertas tetapi rapuh di dalam. Yang dibutuhkan adalah BUMN yang sehat secara menyeluruh,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Sofyano juga menyoroti peran Danantara dalam memperkuat ekosistem BUMN. Ia menilai lembaga tersebut diharapkan tidak hanya berfokus pada aset besar, tetapi juga memperhatikan kinerja anak perusahaan.
“Danantara harus memastikan bahwa holding dan subholding menjalankan fungsi pembinaan korporasi secara serius,” ujarnya.
Ia menambahkan, Danantara diharapkan dapat berperan sebagai pengawas strategis agar seluruh rantai bisnis BUMN berjalan sehat, produktif, dan saling mendukung.
“Jangan sampai holding dan subholding hanya sibuk mempercantik laporan konsolidasi tetapi mengabaikan kondisi riil anak usaha,” katanya.
Sofyano menegaskan, jika anak perusahaan dikelola dengan baik, maka hal tersebut akan berdampak positif terhadap kinerja holding dan kontribusi terhadap negara.
“Kalau anak perusahaan sehat dan kuat maka holding otomatis akan kuat. Kalau holding kuat maka kontribusi dividen kepada negara juga akan meningkat,” ujarnya.
Ia berharap pengelolaan BUMN dapat terus diarahkan pada peningkatan nilai jangka panjang dan tidak hanya bersifat administratif.
“Sinergi di BUMN harus benar-benar terukur dan berjalan nyata, bukan sekadar slogan,” katanya.
Sofyano menegaskan bahwa BUMN merupakan instrumen ekonomi negara yang memiliki peran penting dalam pembangunan nasional, sehingga seluruh aset di dalamnya perlu dikelola secara optimal.
“Anak perusahaan bukan anak tiri. Mereka adalah bagian penting dari kekuatan ekonomi nasional,” pungkasnya.
(Dani Jumadil Akhir)