Misbakhun juga menyinggung kebijakan Menkeu Purbaya yang sengaja menambah base money di atas 12 persen. Langkah ini dinilai positif untuk meningkatkan likuditas dan mendorong pertumbuhan di sektor rill. Sebab menurutnya, ikuiditas yang tersimpan di Bank Sentral belum tentu langsung mengalir ke sektor perbankan.
Selain pertumbuhan ekonomi, Misbakhun menilai sejumlah indikator makro Indonesia masih solid. Ia menyebut Indonesia mampu pulih cepat pascapandemi Covid-19, mencatat surplus perdagangan selama 71 bulan berturut-turut, serta menjaga surplus neraca pembayaran.
"Kita pernah menghadapi quadro defisit, sekarang APBN saja yang defisit," ujarnya.
Dia juga menyoroti tingkat inflasi yang rendah serta cadangan devisa Indonesia yang masih tinggi meski turun dari USD156 miliar menjadi sekitar USD148 miliar. Dengan kondisi tersebut, Misbakhun mempertanyakan alasan pasar dan lembaga pemeringkat masih merespons negatif terhadap Indonesia.
"Artinya apa, fundamental kita sangat bagus, tapi kenapa kemudian kita digerakkan oleh sentimen," pungkas Misbakhun.
(Dani Jumadil Akhir)