JAKARTA - Dalam industri pertambangan, istilah tailing atau limbah sisa proses pengolahan mineral sering kali menjadi perhatian serius. Bukan sekadar urusan teknis, pengelolaan tailing kini menyangkut aspek kepercayaan publik, keselamatan kerja, hingga keberlanjutan lingkungan.
Selama ini, metode Tailing Storage Facility (TSF) atau fasilitas penyimpanan di permukaan menjadi pendekatan yang paling umum digunakan. Meski kerap dipersepsikan negatif akibat isu kegagalan bendungan di beberapa belahan dunia, banyak TSF yang terbukti beroperasi aman selama puluhan tahun berkat standar rekayasa ketat dan pemantauan real-time.
"Tailing Storage Facility (TSF) bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai aset infrastruktur kritikal yang membutuhkan pengawasan," ujar Ketua Bidang Kajian Mineral Strategis, Mineral Kritis & Hilirisasi Mineral Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Muhammad Toha dalam keterangannya, Jakarta, Kamis (14/5/2026).
TSF modern tidak lagi sekadar kolam penampungan, melainkan struktur bendungan kompleks. Pasca kegagalan bendungan besar di dunia (seperti tragedi Brumadinho di Brasil), standar global semakin diperketat melalui Global Industry Standard on Tailings Management (GISTM).
Namun, seiring perkembangan teknologi, industri pertambangan kini mulai beralih ke metode yang dinilai lebih ramah lingkungan, salah satunya adalah backfilling. Metode backfilling atau pengisian kembali lubang tambang dipandang sebagai salah satu praktik terbaik (best practice) dalam manajemen lingkungan dan teknis pertambangan modern.
Metode backfilling dilakukan dengan mengembalikan tailing yang telah didetoksifikasi ke dalam rongga tambang bawah tanah. Material tersebut biasanya dicampur dengan batuan sisa dan bahan pengikat seperti semen untuk memperkuat struktur tambang dari dalam. Metode ini dipandang sebagai solusi bersih karena meminimalkan akumulasi limbah di darat serta mengurangi kebutuhan pembukaan lahan di permukaan.
“Di Indonesia, yang memiliki curah hujan tinggi dan topografi yang seringkali curam, membangun bendungan tailing raksasa (TSF) memiliki risiko geoteknik yang tinggi,” kata Toha.
Dia menambahkan, diperlukan cekungan alami yang besar di kawasan tambang jika menerapkan metode ini. Menurut dia, meskipun biaya operasional backfilling seperti pemompaan atau pengangkutan material tampak mahal di awal, metode ini menghemat biaya reklamasi di masa depan.
“Sebenarnya soal biaya sama saja. Yang paling penting adalah mengutamakan lingkungan dan keselamatan yang disesuaikan dengan Amdal dan kajian teknisnya,” tegas Toha.