JAKARTA - PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) menekankan soal langkah demi mengamankan laju bisnis perusahaan di tengah melambungnya harga bahan bakar penerbangan atau avtur yang otomatis dapat mendongkrak beban operasional maskapai.
Adapun, patokan harga rata-rata avtur per 1 Mei 2026 telah menembus angka Rp29.116 per liternya.
Direktur Utama Garuda Indonesia Glenny Kairupan, menyatakan perusahaannya sedang berada dalam tren positif selama tiga bulan pertama di 2026. Perbaikan kondisi keuangan dan operasional ini utamanya terdorong oleh melonjaknya jumlah penumpang sekaligus perluasan kapasitas terbang di semua lini.
Sepanjang periode Januari hingga Maret 2026, total penumpang yang diangkut oleh Garuda Indonesia Group menyentuh 5,42 juta orang. Angka ini naik 6,76 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) dibanding capaian kuartal pertama tahun sebelumnya yang berada di kisaran 5,08 juta orang. Lonjakan tersebut sejalan dengan meningkatnya frekuensi penerbangan sebesar 5,87 persen, yakni dari 18.265 penerbangan pada awal tahun lalu menjadi 19.337 penerbangan di kuartal I-2026.
Menurut Glenny, manajemen saat ini masih mengarahkan fokusnya untuk memperkokoh fondasi bisnis perseroan. Berbagai cara ditempuh, mulai dari mengejar keunggulan operasional (operational excellence), pengetatan disiplin biaya, optimalisasi jaringan rute, hingga menggenjot transformasi layanan serta penerapan teknologi secara berkesinambungan.
Menilik kondisi kesiapan armada, Garuda Indonesia Group tercatat telah menerbangkan 102 unit pesawat laik operasi (serviceable) sampai penghujung kuartal I-2026. Langkah ini merupakan bentuk akselerasi program return-to-service (RTS) atau pengaktifan kembali pesawat secara bertahap demi mengejar tingginya permintaan tiket penerbangan.
Rinciannya, Garuda Indonesia mencatatkan angkutan sebanyak 2,47 juta orang, disusul anak usahanya, Citilink, yang menerbangkan sekitar 2,94 juta penumpang pada periode tersebut.