Adapun, laba bersih diproyeksikan meningkat dengan CAGR 31% menjadi Rp223,9 miliar pada periode yang sama.
Target tersebut ditopang oleh kepastian volume kontrak yang tengah berjalan serta strategi investasi armada alat berat baru untuk meningkatkan efisiensi konsumsi bahan bakar dan produktivitas operasi.
Pada 2025, perseroan membukukan margin EBITDA sebesar 39% dengan nilai EBITDA mencapai Rp145,4 miliar, meski industri dibayangi kondisi force majeure dan cuaca ekstrem.
Perseroan mengandalkan model layanan end-to-end mining services yang mencakup perencanaan, eksekusi, hingga evaluasi berkala. Sistem tersebut terintegrasi mulai tahap eksplorasi, produksi, hingga reklamasi pascatambang.
Perseroan juga memperluas diversifikasi bisnis ke sektor nikel setelah memperoleh Letter of Award (LoA) dari PT Position, bagian dari Grup Harum Energy, untuk proyek di Halmahera Timur, Maluku Utara.
(Taufik Fajar)