Ternyata Ini Biang Kerok Bansos Rp500 Triliun Salah Sasaran

Rohman Wibowo, Jurnalis
Selasa 19 Mei 2026 07:32 WIB
Ternyata Ini Biang Kerok Bansos Rp500 Triliun Salah Sasaran (Foto: Okezone)
Share :

JAKARTA - Dewan Ekonomi Nasional (DEN) menyoroti ketidaksempurnaan akurasi Badan Pusat Statistik (BPS) dalam merekap desil yang memuat tingkat kesejahteraan masyarakat berdasarkan kemampuan ekonominya. Akibat tidak akuratnya validasi BPS, terjadinya salah sasaran dalam menetapkan penerima manfaat perlindungan sosial (perlinsos) termasuk bansos.

"Yang meranking atau mendesil, sekarang ada di BPS. Tingkat kesalahannya tidak kecil (salah sasaran bansos karena masalah akurasi penetapan Desil oleh BPS). Jadi bisa, tergantung programnya, bisa antara 20 persen sampai bahkan 40 persen," kata Anggota DEN, Arief Anshory Yusuf dalam keterangan di Jakarta, Senin (18/5/2026). 

Arief merincikan secara akumulatif soal ketidaktepatan penetapan desil mengakibatkan di atas 50 persen penerima manfaat yang seharusnya berhak atas bansos, menjadi tidak menerima haknya dari pemerintah. Padahal, pemerintah mengalokasikan sekira Rp500 triliun setiap tahun untuk program perlindungan sosial.

"Sebagai contoh, program sembako, itu error-nya masih sekitar 70-an persen, orang yang seharusnya dapat, tidak dapat. Kalau orang yang seharusnya tidak dapat, itu bisa 40 persen. Program Indonesia Pintar, itu exclusion error-nya (kesalahan) itu 70 persen. Artinya apa? Artinya 70 persen orang yang berhak, yang miskin, tidak mendapatkannya," urai Arief.

Arief menekankan ketidakakuratan penetapan desil itu disebabka karena validasi di Indonesia tidak seperti di negara-negara maju. Indonesia dengan banyaknya pekerja informal, telah membuat kesulitan BPS dalam menetapkan desil berdasarkan tingkat pendapatan. 

"Kalau di negara maju tinggal cek saja berapa gajinya, dia layak apa tidak (menerima perlinsos). Di Indonesia itu kan kerjanya juga informal itu serabutan, sehingga yang kami lakukan itu adalah menentukan kelayakan itu caranya dengan melakukan estimasi, kira-kira berapa pengeluarannya," kata dia.

"Sumber pertama error itu adalah penetapan tingkat kesejahteraan, atau dalam bahasa yang lebih resmi itu disebut desil," imbuhnya.

 

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya