Meski indeks saham utama mengalami pelemahan, rata-rata nilai transaksi harian justru mencatatkan lompatan yang cukup signifikan di tengah maraknya aksi jual bersih oleh pemodal internasional.
Rata-rata nilai transaksi harian selama sepekan melonjak tajam sebesar 30,37 persen menjadi Rp28,38 triliun, dibandingkan capaian pekan sebelumnya yang berada di angka Rp21,77 triliun.
Kenaikan nilai transaksi turut mengerek valuasi kapitalisasi pasar BEI sebesar 0,88 persen, dari Rp10.635 triliun menjadi Rp10.729 triliun pada penutupan pekan lalu.
IHSG sendiri terkoreksi sebesar 0,56 persen, membuat posisi indeks melorot ke level 6.127,381 dari posisi penutupan pekan sebelumnya di level 6.162,045.
Aktivitas perdagangan mengalami perlambatan secara frekuensi harian sebesar 10,87 persen, yaitu menjadi 2,11 juta kali transaksi dari 2,37 juta kali transaksi pada pekan sebelumnya.
Rata-rata volume transaksi harian di bursa menyusut 15,6 persen menjadi 30,95 billion (miliar) lembar saham, dibandingkan capaian minggu sebelumnya yang mencatatkan 36,67 miliar lembar saham.
Di sisi lain, tekanan jual dari pemodal global terpantau masih terus berlanjut secara masif. Pada perdagangan akhir pekan (29/5), investor asing membukukan nilai jual bersih (net sell) yang cukup tebal, yakni mencapai Rp8,519 triliun.
Dengan demikian, secara akumulatif sejak bergulirnya awal tahun 2026, total nilai jual bersih yang dicatatkan oleh investor asing di pasar modal Indonesia telah menembus angka Rp53,971 triliun. Aliran modal keluar ini disinyalir menjadi salah satu faktor penahan laju penguatan indeks menuju level resistansinya.
(Taufik Fajar)