JAKARTA – Kementerian Pertanian (Kementan) memperkuat pengawalan sentra produksi pangan nasional di Kabupaten Merauke, Papua Selatan.
Hal ini guna menjaga keberlanjutan produksi dan memastikan berbagai program pendampingan petani berjalan optimal di tengah dinamika iklim yang terjadi.
Sebagai bagian dari penguatan pengawalan produksi, Kementan melakukan pemantauan langsung terhadap kondisi pertanaman dan panen di sejumlah kawasan produksi padi di Kabupaten Merauke pada Sabtu (30/5/2026).
Pengawalan lapangan ini merupakan tindak lanjut instruksi Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman agar setiap potensi kendala produksi dapat terdeteksi dan ditangani sejak dini sehingga produktivitas pertanian di sentra pangan Merauke tetap terjaga.
Direktur Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian Kementan, Hermanto, menjelaskan bahwa pemantauan lapangan dilakukan untuk memetakan berbagai faktor yang memengaruhi produktivitas pertanian sehingga langkah penanganan yang diperlukan dapat segera dilakukan.
“Kami turun langsung untuk memetakan, jika memang terjadi penurunan produksi, apa penyebab utamanya. Setelah bersama-sama meninjau tiga lokasi tadi, memang ditemukan adanya penurunan produksi, namun kondisinya tidak signifikan dan bukan gagal panen total (puso),” ujar Hermanto usai peninjauan dalam keterngan tertulisnya, Senin (1/6/2026).
Menurutnya, dinamika iklim yang ditandai dengan tingginya curah hujan pada musim rendengan menjadi tantangan yang perlu diantisipasi bersama.
Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT), sehingga penguatan pengendalian dan pendampingan kepada petani menjadi langkah penting untuk menjaga produktivitas pertanian.
Untuk menjaga produktivitas pertanian di tengah dinamika iklim, Kementan bersama pemerintah daerah terus memperkuat berbagai langkah mitigasi dan adaptasi.
Upaya yang dilakukan antara lain melalui perbaikan dan optimalisasi jaringan irigasi, pemanfaatan varietas yang lebih adaptif terhadap kondisi genangan maupun banjir, penguatan pendampingan budidaya oleh penyuluh pertanian, serta percepatan penanganan berbagai kendala yang berpotensi memengaruhi hasil produksi petani.
Selain itu, pengendalian OPT juga terus diperkuat melalui pendekatan pengendalian terpadu yang melibatkan petani, penyuluh, dan dinas teknis di daerah.
Ketersediaan sarana pengendalian yang sesuai dengan karakteristik serangan OPT di wilayah Merauke menjadi bagian penting dalam upaya menjaga kondisi pertanaman, terutama pada periode curah hujan tinggi yang meningkatkan kerentanan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit.
Sebagai langkah antisipasi ke depan, Hermanto menegaskan pentingnya memperkuat konsolidasi dan koordinasi antara petani, penyuluh lapangan, serta dinas terkait agar pengendalian hama dan penyakit tanaman dapat dilakukan secara lebih efektif dan berkelanjutan.
“Teman-teman di lapangan sudah mulai mengonsolidasikan gerakan untuk memastikan serangan hama dapat diminimalisir ke depannya. Hama memang tidak bisa dihindari sepenuhnya, tetapi sangat bisa dikendalikan agar tidak sampai terjadi ledakan kasus,” tambahnya.
(Taufik Fajar)