Dari sisi struktur permodalan, MINE juga mencatat perbaikan setelah melunasi pinjaman bank jangka pendek yang sebelumnya masih tercatat pada akhir 2025. Langkah tersebut turut mendorong penurunan debt-to-equity ratio (DER) menjadi sekitar 0,67 kali pada akhir Maret 2026, dibandingkan sekitar 0,87 kali pada akhir tahun lalu.
“Penurunan leverage menunjukkan ketergantungan terhadap pembiayaan berbasis utang semakin terkendali. Struktur modal yang lebih sehat memberikan kemampuan yang lebih besar bagi perusahaan untuk menghadapi ketidakpastian pasar,” kata Alfred.
Selain itu, kemampuan operasional Perseroan juga dinilai tetap terjaga. EBITDA kuartal I 2026 diperkirakan mencapai sekitar Rp210,6 miliar dengan EBITDA margin sekitar 31%, mencerminkan kemampuan bisnis inti dalam menghasilkan profitabilitas yang solid.
Pada harga saat ini , saham MINE memiliki valuasi yang murah dengan PE (Annulized) Ratio hanya sebesar 3,6x dan PBV sebesar 0,9x. “Valuasi masih sangat menarik untuk sebuah emiten yang punya pertumbuhan yang solid. Selain dari sisi pertumbuhan, perolehan dividen yield juga menarik. Dengan level PE tersebut, potensi dividen yield tahun buku 2026 bisa diatas 8%-an,” paparnya.
Ia menilai, kombinasi antara pertumbuhan usaha, peningkatan likuiditas, penurunan leverage, dan profitabilitas yang tetap kuat menunjukkan kualitas fundamental MINE yang semakin baik. Hal ini semakin diperkuat dengan kemampuan Perseroan dalam membagikan dividen kepada pemegang saham meski baru satu tahun IPO. Hal ini menjadi sinyal bahwa Perseroan memiliki kondisi keuangan dan kapasitas arus kas yang cukup solid untuk mendukung pertumbuhan usaha sekaligus memberikan imbal hasil kepada pemegang saham.
“Ketika perusahaan mampu menjaga profitabilitas sekaligus memperkuat neraca, profil risikonya menjadi lebih sehat. Ini menjadi faktor yang umumnya mendapat perhatian investor dalam menilai keberlanjutan pertumbuhan jangka panjang,” pungkasnya.
(Taufik Fajar)